Jakarta, GPriority.co.id – Data GFW (Global Forest Watch) mengungkap fakta mengejutkan. Dilaporkan sebanyak 10,5 juta hektare hutan di Indonesia hilang sepanjang 2002-2023.
Akibatnya, Indonesia menjadi negara terbesar kedua di dunia yang kehilangan hutan tropis setelah Brasil. Padahal menurut GFW, hutan primer tropis merupakan ekosistem paling kaya dan stabil. Namun kini paling terdampak akibat praktik ekspansi lahan serta tekanan aktivitas manusia.
Dilansir dari laporan resminya, GFW menyebut hilangnya hutan primer merupakan cerminan kehancuran ekosistem krusial yang menopapng jutaan kehidupan. Dalam laporan tersebut GFW turut menyoroti kian menyempitnya habitat satwa liar seperti orangutan hingga gajah Sumatera.
Selain itu, kapasitas penyimpanan karbon yang membuat krisis iklim bergerak lebih cepat juga semakin melemah. Berdasarkan data tersebut, publik pun kembali menyoroti bencana hidrometerolog yang terjadii di berbagai daerah Indonesia.
Data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat terjadi 2.726 kejadian sepanjang 2025. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
GFW memperingatkan peran hutan hujan sebagai spons alami yang berperan dalam menjaga ketersediaan air serta kestabilan tanah. Apabila tutupan hutan menyusut, risiko banjir bandang, longsor, hingga kekeringan pun ikut meningkat. Saat ini pola tersebut semakin banyak terjadi di Indonesia.
Di sisi lain, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Barat (WALHI Sumbar) sebelumnya juga mengungkapkan jika saat ini provinsi Sumatera Barat telah kehilangan lebih dari 1 juta hutan akibat kebijakan investasi dari pemerintah daerahnya.
“Kami sudah menganalisis beberapa data terkait perubahan tutupan hutan di Sumatera Barat. Dalam konteks provinsi, per hari ini dari 1980 sampai 2024, karena kebijakan investasi di Sumbar itu kehilangan sekitar 1.150.000 hutan yang tersebar di seluruh provinsi,” ungkap Andre Bustamar, perwakilan WALHI Sumbar melalui agenda konferensi pers Senin (12/1) di Jakarta.
Dirincinya lebih lanjut, 34 ribu hektare hutan yang hilang merupakan hutan penopang Kota Padang. Meski pemerintah setempat mengatakan bencana banjir bandang yang terjadi saat ini bukan karena adanya penebangan ilegal, namun kini di tepian pantai banyak kayu dalam jumlah besar yang bentuknya merupakan hasil penebangan dengan chainsaw.
