Jakarta, GPriority.co.id – Para peneliti dari Universitas Cambridge baru saja menerbitkan sebuah penelitian baru pada Selasa (2/12) lalu mengenai bahaya zat pestisida.
Dilansir dari laporan NY Post, mereka menemukan banyak zat yang sering ditemukan sehari-hari berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri usus baik pada tubuh.
“Zat ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti kesehatan pencernaan, berat badan, sistem kekebalan tubuh, hingga kesehatan mental,” tulis peneliti dalam laporannya.
Pestisida seringkali digunakan untuk membunuh serangga atau jamur, khususnya pada sayuran atau buah-buahan. Namun ketika dikonsumsi, zat tersebut dapat memengaruhi bakteri usus baik pada tubuh manusia.
Padahal, usus sendiri bukan hanya sekadar mesin pencernaan, melainkan juga menjadi pusat kendali utama untuk kekebalan, metabolisme, hingga memengaruhi peradangan pada tubuh.
Apabila mikroba melemah, lapisan usus menjadi lebih rentan. Bahkan sistem kekebalan tubuh juga menjadi terlalu aktif hingga menyebabkan peradangan kronis, yang menjadi akar dari banyak masalah kesehatan di zaman sekarang.
Momo Vuyusich, seorang ahli biokimia dan kepala sains di layanan pengujian kesehatan Viome menyarankan untuk fokus mengonsumsi makanan organik. Selain itu, menurutnya, konsumen juga harus mengurangi asupan antibiotik, pestisida, hingga bahan tambahan makanan lainnya seperti pengemulsi dan pengawet.
Sedangkan untuk makanan dalam kemasan, disarankan untuk membaca ingredients atau daftar bahannya terlebih dahulu.
“Hindari benoat, polisorbat, dan aspartam. Saya menyebutnya sebagai zat aditif. Dan makanan dalam kemasan yang banyak dijual di toko swalayan banyak yang mengandung zat-zat tersebut,” ujar Vuyusich.
Lebih lanjut Vuyusich juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan usus. Karena, gangguan mikrobioma dapat berdampak negatif pada setiap bagian tubuh manusia.
“Zat-zat tersebut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kesehatan fisik, mental, kognitif, hingga kekebalan tubuh kita,” tekannya.
Menurut penuturan Vuyusich, perubahan awal dalam mikronioma dapat dideteksi melalui pengujian khusus.
