Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, melainkan bacaan yang harus dilafalkan dengan benar.
Oleh karena itu, lanjut dia, kemampuan membaca Al-Qur’an menjadi fondasi dasar dalam keberagamaan umat Islam.
Hal tersebut disampaikan Nasaruddin dalam sambutannya pada Ekspos Publik Hasil Asesmen Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ) yang diselenggarakan Kementerian Agama, Kamis (18/12).
“Dalam Islam, Al-Qur’an itu bukan sekadar kitab, tetapi bacaan. Tidak ada salat tanpa membaca Surah Al-Fatihah. Karena itu, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan benar adalah fondasi dasar keberagamaan,” ucap Nasaruddin, dikutip dari situs Kementerian Agama.
Ia menegaskan, wahyu Al-Qur’an pertama kali diturunkan dengan perintah iqra’ atau membaca, bukan menulis. Oleh sebab itu, pendidikan Al-Qur’an harus menitikberatkan pada kemampuan tilawah yang sesuai dengan kaidah.
Menurut Nasaruddin, peningkatan kemampuan baca Al-Qur’an merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, termasuk pemerintah daerah.
“Bagaimana agar seluruh warga Muslim Indonesia bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, itu tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Lebih lanjut, Nasaruddin menyinggung soal pentingnya perhatian dan apresiasi bagi para guru ngaji, khususnya di pedesaan, yang selama ini mengajar dengan penuh keikhlasan.
“Guru ngaji di desa sering mengajar tanpa gaji dan hanya mengandalkan keikhlasan. Ke depan, mereka perlu mendapat apresiasi yang lebih layak,” pungkas Nasaruddin.
