Ahli Gizi dr. Tan Shot Yen Kritik Menu MBG, Dinilai Lebih Utamakan Produk Industri

Ahli gizi dr. Tan Shot Yen mengkritik menu MBG (Makan Bergizi Gratis) pada Senin (22/9) lalu/Foto : Tangkapan Layar YouTube TV Parlemen Ahli gizi dr. Tan Shot Yen mengkritik menu MBG (Makan Bergizi Gratis) pada Senin (22/9) lalu/Foto : Tangkapan Layar YouTube TV Parlemen

Jakarta, GPriority.co.id – Ahli gizi dr. Tan Shot Yen mengkritik menu MBG (Makan Bergizi Gratis). Menurutnya, pemerintah lebih mengutamakan produk industri ketimbang kekayaan pangan lokal Indonesia, sebagaimana dilansir dari ANTARA pada Jumat (26/9).

Kritikan tersebut diutarakannya pada agenda audiensi publik mengenai rekomendasi Program Pangan Bergizi (PPB) bersama Komisi IX DPR RI pada Senin (22/9) lalu. Wanita yang juga merupakan pakar gizi masyarakat tersebut menyuarakan keprihatinannya terhadap arah program MBG ke depannya.

Ia mengawali kritiknya tersebut dengan pernyataan tegas, ‘hentikan distribusi makanan kering dan produk ultra-olahan (UPF) dari industri’.

Lebih lanjut, menurutnya setiap anak Indonesia berhak mendapatkan nutrisi terbaik dari tanah kelahiran mereka, bukan dari barang impor yang memisahkan mereka dari warisan kuliner mereka sendiri.

“Saya pengen anak Papua bisa makan ikan kuah asam. Saya pengen anak Sulawesi bisa makan kapurung. Tapi yang terjadi, dari Lhoknga sampai dengan Papua, yang dibagi adalah burger,” ungkapnya.

Dr. Tan memperingatkan bahwa pendekatan saat ini berisiko menjauhkan generasi muda dari pengetahuan mereka tentang makanan lokal. Ia juga menanggapi argumen bahwa anak-anak mungkin tidak menyukai makanan lokal hanya karena mereka tidak terbiasa.

Meskipun ia mengakui hal ini mungkin benar, ia menekankan bahwa preferensi anak-anak tidak boleh menjadi alasan untuk selalu menuruti tuntutan mereka.

Selain itu, Tan turut menyoroti praktik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang seringkali nakal. Mulai dari memberikan isi burger dari daging olahan murahan berwarna pink yang menurutnya rasanya seperti karton.

Ia menegaskan, sudah seharusnya program MBG tak boleh sekadar mengikuti permintaan anak-anak yang menginginkan menu populer tanpa memperhatikan gizi yang seimbang.

“Maka kita harus membina kantin sekolah. So, adakan modifikasi MBG jadi jangan kekeuh, keras kepala batu, harus pakai SPPG yang modalnya sekian miliar dan harus mempunyai kulkas yang terbuat dari stainless. Tapi kan kantin bisa diberdayakan. Latih, didik, dan awasi para pemilik kantin,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tan juga mengingatkan jika tujuan utama MBG ialah menyehatkan anak bangsa, bukan malah membiasakan anak-anak untuk makan makanan instan apalagi dari impor.