Iran, GPriority.co.id – Pemerintah Iran pada hari Senin (12/1) kemarin mengatakan bahwa mereka bersiap untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan campur tangan dengan kekuatan militer di tengah aksi protes yang terjadi.
Membalas ancaman militer Trump, Iran mengaku sepenuhnya siap untuk berperang. Hal ini terjadi setelah Trump sebelumnya mengatakan bahwa kepemimpinan Iran berupaya untuk bernegosiasi dengan pemerintahannya. Trump berulang kali mengancam akan ikut campur tangan secara militer jika Teheran membunuh para demonstran.
Hingga saat ini laporan menyebut, ratusan orang telah tewas di tengah demonstrasi yang dimulai dua minggu lalu. Demonstrasi terjadi akibat adanya kenaikan biaya hidup di negara tersebut.
“Republik Islam Iran tidak mencari perang tetapi sepenuhnya siap untuk perang,. Kami juga siap untuk bernegosiasi, tetapi negosiasi ini harus adil, dengan hak yang sama dan berdasarkan rasa saling menghormati,” kata Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dalam konferensi para duta besar asing di Teheran yang disiarkan oleh televisi pemerintah..
Sementara Trump mengatakan bahwa Teheran telah mengindikasikan kesediaannya untuk berdialog.
“Para pemimpin Iran menelepon kemarin,” kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.
Trump menambahkan, “Pertemuan sedang diatur. Mereka ingin bernegosiasi. Namun kita mungkin harus bertindak sebelum pertemuan,” tambah Trump yang mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer di negara tersebut.
Sementara itu, pemadaman internet di Iran kini telah berlangsung lebih dari 48 jam, menurut lembaga pemantau Netblocks.
Setidaknya 192 demonstran telah tewas, kata LSM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia, dan menambahkan bahwa jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.
“Laporan yang belum diverifikasi menunjukkan bahwa setidaknya beberapa ratus, dan menurut beberapa sumber, lebih dari 2.000 orang mungkin telah tewas,” kata IHR yang melaporkan bahwa lebih dari 2.600 demonstran telah ditangkap oleh pihak berwenang Iran berdasarkan perkiraan tersebut.
