Jakarta, GPriority.co.id – Tim Peneliti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan jika Program MBG berdampak besar pada peningkatan PDB atau Produk Domestik Bruto hingga Rp26 triliun.
Dengan menggunakan beberapa metode riset seperti Computable General Equilibrium (CGE), Structural Equation Modelling (SEM), Pendekatan Institutional Analysis and Development (IAD), dan Pendekatan Importance Performance Analysis (IPA), tim peneliti melakukan riset di Provinsi Bangka Belitung dan Jawa Barat, dengan melibatkan sampel sebanyak 855 orang.
Sebagaimana dituturkan oleh Ketua Tim Peneliti Program MBG BRIN, Iwan Hermawan, Program MBG memberi dampak makroekonomi yang bukan hanya positif, namun juga terukur.
“Jadi, simulasinya menunjukkan terjadi peningkatan tambahan PDB sebesar Rp14,5 hingga 26 triliun,” ujar Iwan pada Rabu (4/3) di Gedung BRIN, Jakarta.
Iwan menyebut, angka tersebut bersamaan dengan kenaikan konsumsi agregat hingga 0,19 persen serta investasi hingga 0,24 persen. Selain itu, tekanan inflasi juga relatif terkendali. Hasil ini menunjukkan bahwa MBG bekerja dengan melalui penguatan permintaan domestik dan aktivitas sektor riil.
Iwan melanjutkan, dampak ekonomi yang dihasilkan Program MBG Juga berjalan dari hulu ke hilir, utamanya pada sektor pangan serta penyerapan tenaga kerja.
Dalam hal ini, terjadi peningkatan produksi beras, olahan daging, susu, hortikultura, serta serapan tenaga kerja hingga 0,19 persen pada sektor pangan dan pengolahan.
Menurut Iwan, penerima manfaat dan juga pemangku kepentingan menilai Program MBG telah efektif dijalankan hingga saat ini.
“Secara umum kinerja program telah mendekati dengan ekspektasi mereka, walaupun ada catatan terkait jumlah makanannya,” jelas Iwan.
Pihak Tim Peneliti MBG BRIN pun turut merekomendasikan agar program ini dapat diperkuat dengan pembangunan dashboard nasional yang berbasis output-outcome.
Dashboard tersebut mengintegrasikan standar gizi dengan keamanan pangan, distribusi, serta kinerja tata kelola secara real-time dan transparan.
“Keberlanjutan program (MBG) ditentukan oleh kapasitas SDM dan komunikasi publik yang efektif dengan melalui pelatihan berkala serta melibatkan komunitas. Tentunya juga dengan strategi komunikasi yang jelas dan membuka ruang feedback masyarakat,” pungkasnya.
