Buka TEI ke-39, Mendag Ungkap Masalah Impor Bahan Peledak

Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa masih ada bahan baku peledak yang tertahan di pelabuhan. Hal ini terungkap dari keluhan Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose, kepadanya.

Mendag mengatakan hal tersebut saat membuka peluncuran Trade Expo Indonesia ke-39 di Kantor Kementerian Perdagangan. Dia menyebutkan bahwa sebelumnya dia menjamu Dirut Pindad di kediamannya, yang menyebabkan keterlambatannya ke lokasi peluncuran TEI 2024.

“Saya jam 9 sudah mau jalan dari rumah, sudah mau siap rapi, tapi tamunya enggak abis-abis. Terakhir tadi datang Dirut PT Pindad, datang karena mendesak katanya, ya saya terima,” ujar Zulkifli Hasan di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (31/5).

Acara dijadwalkan dimulai pada 9.30 WIB, namun orang nomor satu di Kemendag itu baru tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB. Mendag Zulkifli juga menyampaikan keluhan dari Bos Pindad tersebut.

Ternyata, ada bahan baku yang dibutuhkan Pindad yang masih tertahan di pelabuhan. Diketahui, banyak barang yang masih tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak dalam beberapa waktu terakhir.

“Rupanya ada impor bahan peledak gak bisa keluar dari pelabuhan, itu sama-sama susah. Dia susah bahannya gak keluar, Bea Cukai susah takut meledak,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa bahan peledak itu sudah tiba sejak Maret 2024 lalu. Namun, izin impor bahan peledak Pindad itu baru diurus pada April 2024.

Mendag Zulkifli Hasan menyadari adanya selisih waktu antara kedatangan barang dan pengurusan izin. Diakuinya, itu disebabkan karena aspek pertimbangan teknis (pertek) yang membutuhkan waktu. Pertek ini merupakan kewenangan Kementerian Perindustrian.

“Saya tanya kenapa enggak bisa keluar, katanya barangnya datang Maret, ngurus izinnya baru April, gitu. Jadi ada selisih gitu. Kenapa barang sampai duluan persetujuan impornya baru April? Katanya ‘pertek-pertek agak lama pak’,” urainya mengulang percakapan dengan Dirut Pindad.

Foto: GPriority