CELIOS: Kenaikan BBM Nonsubsidi Dorong Peralihan ke Kendaraan Listrik

Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai dapat menjadi momentum percepatan peralihan ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), khususnya bagi kelompok masyarakat menengah ke atas.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara. Sebagaimana dilansir dari laporan ANTARA, Bima menilai perubahan harga energi memiliki dampak langsung terhadap perilaku konsumsi masyarakat.

Menurutnya, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex berpotensi mendorong konsumen beralih ke kendaraan listrik yang dianggap lebih efisien dalam jangka panjang.

“Untuk kelompok menengah ke atas yang biasa mengkonsumsi Pertamax Turbo ya, atau Pertamina Dex, ya, ada kecenderungan memang beralih ke mobil listrik atau EV,” ujar Bhima.

Perlu diketahui, kenaikan harga BBM nonsubsidi sendiri mulai berlaku sejak 18 April 2026. Harga Pertamax Turbo di wilayah DKI Jakarta naik menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100 per liter.

Sementara itu, Dexlite meningkat menjadi Rp23.600 per liter dari Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex naik menjadi Rp23.900 per liter dari Rp14.500 per liter.

Di sisi lain, harga BBM subsidi seperti Pertalite tetap berada di Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Untuk BBM nonsubsidi lainnya seperti Pertamax (RON 92), harga masih dipertahankan di Rp12.300 per liter.

Bhima menjelaskan bahwa respons terhadap kenaikan harga BBM tidak seragam di setiap lapisan masyarakat. Kelompok menengah atas dinilai lebih fleksibel dalam beralih ke kendaraan listrik karena memiliki daya beli yang lebih tinggi. Sementara itu, kelompok menengah masih cenderung berhitung sebelum mengambil keputusan.

“Tapi untuk yang kelompok menengah, masih menimbang-nimbang. Karena apa? Karena efek dari gangguan produksi dan juga rantai pasok di Selat Hormuz itu berpengaruh juga terhadap komponen dan juga biaya produksi bagi EV, sehingga EV-nya juga mengalami penyesuaian yang naik,” kata Bhima.

Ia menambahkan bahwa berkurangnya insentif pemerintah terhadap kendaraan listrik pada tahun 2026 turut menjadi faktor yang memengaruhi minat masyarakat. Dengan harga kendaraan listrik yang ikut meningkat, kelompok menengah cenderung menunda peralihan meskipun biaya BBM naik.

“Kemudian juga mempertimbangkan insentif-insentif EV dan yang banyak berkurang di 2026 ini. Jadi memang setiap kelompok masyarakat itu akan memiliki perilaku konsumsi terhadap EV yang berbeda-beda,” ujarnya.

Selain mendorong peralihan ke kendaraan listrik, kenaikan harga BBM nonsubsidi juga berpotensi memicu pergeseran konsumsi ke jenis BBM lain yang lebih murah. Misalnya, pengguna Pertamax Turbo beralih ke Pertamax yang harganya lebih rendah, atau bahkan ke BBM subsidi jika pengawasan tidak ketat.

Namun demikian, kebijakan ini juga membuka peluang percepatan transisi energi di Indonesia. Dengan semakin mahalnya BBM fosil, kendaraan listrik menjadi alternatif yang lebih menarik, terutama bagi kelompok masyarakat yang mampu.