Jakarta, GPriority.co.id – Meningkatnya fragmentasi perdagangan global dan ancaman perubahan iklim menuntut Indonesia segera memperkuat strategi ekonomi hijau agar tetap kompetitif di tengah persaingan investasi dan perdagangan internasional.
Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam peluncuran Laporan Perdagangan & Investasi Berkelanjutan Indonesia 2026 bertajuk “Dari Fragmentasi ke Transformasi: Memperkuat Ekonomi Hijau sebagai Strategi Daya Saing Indonesia” yang diselenggarakan CSIS di Auditorium CSIS, Jakarta, Selasa (30/6).
Peneliti Departemen Ekonomi CSIS, Dandy Rafitrandi, menilai risiko bencana alam selama ini masih sering diabaikan dalam perencanaan fiskal, padahal dampaknya dapat menjadi ancaman serius bagi perekonomian nasional.
“Di akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 kita diperlihatkan bahwa bencana alam itu memiliki semacam bom waktu. Kalau kita tidak berhati-hati atau tidak bisa beradaptasi, ini akan membahayakan dari sisi fiskal,” ujar Dandy.
Menurutnya, meski dunia tengah menghadapi fragmentasi perdagangan akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan global, kondisi tersebut juga membuka peluang relokasi perdagangan dan investasi yang dapat dimanfaatkan Indonesia.
Namun, Dandy mengingatkan Indonesia harus bergerak lebih cepat karena negara-negara seperti Vietnam, Meksiko, India, dan Thailand telah lebih dahulu memanfaatkan pergeseran arus perdagangan global, terutama setelah kebijakan tarif Amerika Serikat mengubah pola rantai pasok dunia.
Selain itu, ia menilai diversifikasi mitra dagang Indonesia perlu dilakukan secara lebih strategis agar tidak sekadar berpindah ke pasar nontradisional tanpa memperhatikan sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi.
Dari sisi investasi, laporan CSIS menunjukkan adanya perubahan tren global, yakni arus foreign direct investment (FDI) mulai bergeser dari negara berkembang menuju negara maju, terutama karena investasi teknologi kecerdasan buatan (AI) lebih banyak terkonsentrasi di negara maju.
Di dalam negeri, sepanjang 2025 investasi dalam negeri (PMDN) tercatat lebih dominan dibandingkan investasi asing. Meski dapat menjadi penyangga ekonomi, Dandy mengingatkan penurunan proporsi investasi asing perlu dicermati.
“Investasi luar negeri adalah channel bagi Indonesia untuk mendapatkan transfer teknologi, memperluas potensi ekspor, dan mendorong standar keberlanjutan. Karena itu kita perlu melihat apakah penurunan proporsi FDI ini merupakan hal yang baik atau justru sebaliknya,” katanya.
CSIS juga mencatat perdagangan produk pendukung transisi energi terus meningkat. Walaupun impor masih lebih besar daripada ekspor, kondisi tersebut dinilai positif karena Indonesia dapat memperoleh akses terhadap teknologi hijau yang lebih maju.
Dalam laporannya, CSIS turut mendorong penguatan kerja sama internasional melalui berbagai forum seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), platform perdagangan dan iklim internasional, hingga kesiapan menghadapi implementasi European Union Deforestation Regulation (UDR).
Selain itu, laporan tersebut menyoroti enam agenda strategis, mulai dari penguatan ekosistem kendaraan listrik, pengembangan nilai ekonomi karbon, perluasan taksonomi keuangan berkelanjutan, kerja sama listrik hijau ASEAN, tata kelola ekspor karet, hingga optimalisasi dana tarif sebagai instrumen pembiayaan investasi hijau yang berkelanjutan.
