Bogota, Gpriority.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam menculik Presiden Kolombia, Gustavo Petro setelah menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Lantas bagaimana tanggapan Petro terkait ancaman itu?
Donald Trump mengancam Presiden Kolombia Gustavo Petro dengan operasi militer pada 4 Januari 2026 di Air Force One. Tuduhan Trump menyasar Petro sebagai pemimpin “sakit” yang memimpin produksi dan perdagangan kokain ke AS. Saat ditanya soal operasi militer, Trump menjawab “kedengarannya bagus”. Ketegangan memang meningkat sejak akhir 2025 setelah Trump menyebut Kolombia sebagai produsen kokain utama.
Atas ancaman itu Petro menegaskan Kolombia memberantas narkoba tanpa kekerasan militer dan memperingatkan bahwa serangan AS akan dianggap deklarasi perang. Mantan gerilyawan M-19 itu pun menantang Donald Trump untuk datang dan menangkapnya.
“Jadi, saya harus mengatakan kepada Bapak Marco Rubio, saudaraku, jika Anda akan memenjarakan saya, mari kita lihat apakah Anda bisa. Jika Anda ingin mengenakan… apa namanya?… Piyama oranye itu pada saya, silakan saja. Tetapi orang-orang ini tidak akan berlutut di hadapan Anda. Kebencian Anda terhadap masa lalu, yang tidak saya ketahui, dan tidak ada orang Kolombia yang bersalah atas apa yang terjadi pada kakek atau ayah Anda di Kuba,” ujarnya.
Sesaat setelah penangkapan Maduro, Petro menggelar rapat darurat keamanan pada dini hari dan menyebut serangan AS sebagai “terorisme negara” yang mengancam seluruh Amerika Latin.
Ia juga menegaskan Kolombia mengambil langkah militer defensif di perbatasan Venezuela pasca penangkapan Nicolás Maduro oleh AS pada 3 Januari 2026. Pasukan dikerahkan untuk mengamankan wilayah dan mengantisipasi gelombang pengungsi. Pasukan militer beserta kendaraan lapis baja dikerahkan ke pos-pos perbatasan di departemen Norte de Santander, khususnya sekitar kota Cucuta.
Sementara patroli dilakukan di jembatan internasional seperti Simón Bolívar dan Tienditas untuk menjaga keamanan. Kementerian Pertahanan Kolombia juga mengaktifkan pos komando terpadu di Cucuta guna koordinasi respons keamanan dan kemanusiaan. Penguatan ini mencakup personel pasukan khusus dan polisi di sepanjang perbatasan seluas lebih dari 2.200 km.
Foto : Wikipedia
