Jakarta, GPriority.co.id – Anggota Komisi I DPR RI, Andina Theresia Narang, menekankan pentingnya penyusunan roadmap atau blueprint kesiapan Indonesia dalam menghadapi serangan siber, termasuk skenario terburuk ketika internet maupun sistem keuangan nasional lumpuh akibat serangan hacker.
Ia mencontohkan kasus Estonia yang mengalami kelumpuhan besar akibat serangan siber pada 2007.
“Beberapa kejadian besar di dunia, seperti Estonia 2007, menunjukkan serangan siber skala nasional bisa membuat perbankan lumpuh, website pemerintah runtuh, bahkan ATM tidak berfungsi,” ujar Andina dalam RDP dengan Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1).
Menurutnya, Indonesia harus bersikap tegas dan serius dalam merespons ancaman siber agar stabilitas nasional serta ketahanan negara tetap terjaga.
“Sekarang, perang pun banyak dilakukan menggunakan hacker yang sangat canggih. Sinergitas antar lembaga harus segera dipikirkan agar kedamaian dan ketahanan negara kuat,” tegasnya.
Selain kesiapan sistem, Andina juga menyoroti keterbatasan sumber daya manusia (SDM) di bidang siber. Ia menyebut jumlah lulusan politeknik siber saat ini hanya sekitar 100 orang per tahun, jauh dari kebutuhan nasional yang diperkirakan mencapai 8.000 tenaga ahli per tahun.
“Kondisi ini menunjukkan adanya defisit SDM. Apakah sudah ada program rekrutmen yang melibatkan perguruan tinggi lain selain BSSN? Kita butuh generasi muda yang tangguh dan menguasai teknologi,” ujarnya.
Oleh karena itu, Andina mendorong kolaborasi antara BSSN dan perguruan tinggi untuk mencetak lulusan berkualitas yang siap menjaga keamanan siber nasional sekaligus mengawal transformasi digital Indonesia.
“Generasi muda ini nantinya harus mampu memegang kendali pemerintahan digital, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih,” pungkas Andina.
