Efisiensi Anggaran, Kemenag Potong Perjalanan Dinas hingga 70 Persen

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar soal kekerasan seksual/Foto Instagram Nasaruddin Umar

Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Agama (Kemenag) melakukan pemangkasan pada pos perjalanan dinas sebanyak 65 hingga 70 persen pada anggaran tahun 2026.

Kepala Biro Perencanaan pada Setjen Kemenag, Kastolan mengatakan pemotongan signifikan pada pos perjalanan dinas luar negeri hingga 70 persen dan perjalanan dinas biasa sebesar 65 persen.

“Kami melakukan pemotongan signifikan pada pos perjalanan dinas luar negeri hingga 70% dan perjalanan dinas biasa sebesar 65%. Anggaran hasil penghematan ini dialihkan untuk menjaga agar fungsi layanan dasar tidak terganggu,” kata Kastolan dalam keterangannya, dikutip Kamis (9/4).

Langkah tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar yang meminta seluruh jajaran Kemenag melakukan transformasi mendasar dalam pola pikir perencanaan program.

Nasaruddin menegaskan keterbatasan anggaran negara tidak boleh menjadi penghalang bagi instansi untuk menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan keagamaan yang dihadapi masyarakat.

“Perencanaan kita ke depan, saya minta tolong berpikirlah out of the box. Acuan kita ke depan adalah tantangan, jangan hanya terpaku pada anggaran yang kita miliki. Kalau anggaran terbatas, cari alternatif,” ucap Nasaruddin.

Di tengah tantangan fiskal yang cukup berat pada 2026, jajaran Kemenag juga diminta mempertajam sejumlah program prioritas. Hal ini dilakukan agar layanan keagamaan dan pendidikan tetap menjangkau masyarakat hingga tingkat akar rumput meskipun ruang fiskal terbatas.

Menurut Nasaruddin, penajaman program dapat dilakukan dengan menyatukan langkah antara Direktorat Jenderal, Kantor Wilayah Kemenag Provinsi, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN).

“Mari kita bekerja sebagai Super Team, bukan Superman. Saya mohon Rektor dan Kakanwil berkolaborasi. Jangan hanya bertemu saat seremoni. Gunakan mahasiswa KKN/PKN untuk membantu program Bimas, misalnya memberantas buta huruf Al-Qur’an di desa atau mencegah pernikahan bawah tangan,” tuturnya.

Ia juga mendorong integrasi program penyuluh, imam masjid, dan Kantor Urusan Agama (KUA) secara holistik, komprehensif, dan terintegrasi.

“Integrasikan program penyuluh, imam masjid, dan KUA secara holistik, komprehensif, dan integratif. Ajuan kita ke depan adalah tantangan, jangan hanya terpaku pada anggaran yang kita miliki,” pungkasnya.