Eko Yuli Irawan, Raih Segudang Prestasi

Sebagai atlet angkat besi atau biasa disebut dengan lifter, Eko Yuli Irawan memiliki segudang prestasi seperti medali emas di PON XVII Kaltim, 2008, medali emas Sea Games 2007,2009,medali emas  Asian Games 2018, Medali Emas Kejuaraan Dunia Angkat Besi Junior 2017, medali emas Universiade 2011, medali perak Olimpiade Tokyo 2020 dan sederet prestasi lainnya.

Berkat prestasi inilah, Eko Yuli Irawan selalu menjadi lifter andalan Indonesia di berbagai cabang kejuaraan angkat besi yang digelar oleh federasi angkat besi seluruh dunia. Namun prestasi manis yang ditorehkannya bukanlah mudah diraih namun harus melalui perjuangan yang panjang.

Saat kecil dulu, Eko Yuli Irawan  yang lahir pada 24 Juli 1989 di Metro, Lampung tidak pernah bermimpi bisa meraih kesuksesan seperti pada saat ini. Hal ini dikarenakan kondisi kedua orang tuanya yang hanya bekerja serabutan. Ayahnya yang bernama Saman hanyalah seorang tukang becak, sedangkan ibunya Wastiah merupakan penjual sayur.

Eko sendiri tidak mengeluh dengan kondisi kedua orang tuanya, dengan penuh kesadaran, Eko pun membantu orang tuanya dengan mengembalakan kambing milik tetangganya.” Lumayan hasilnya bisa buat beli kebutuhan sekolah,” kenang Eko dikutip dari laman pribadinya (4/8/2021).

Terbiasa menggembalakan kambing, membuat Eko tumbuh menjadi lelaki yang penuh tanggung jawab. Untuk itulah sebagian uang hasil menggembalakan kambing diberikan kepada ibunya untuk membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai penggembala kambing, Eko selalu keliling kampung. Saat sedang keliling kampung dirinya melihat  ada sekelompok orang sedang berlatih angkat besi. Eko pun tertarik untuk ikut berlatih. Namun dirinya tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya. Saat dirinya tengah bimbang, tiba-tiba seorang pelatih angkat besi dari kelompok tersebut menghampiri dan mengajak Eko untuk bergabung bersama kelompoknya.

Eko pun tidak mengiyakan karena harus meminta izin kepada kedua orang tuanya. Saat meminta izin kepada orang tuanya, Ayahnya mengizinkan sedangkan sang ibu tidak. Menurut sang ayah, alasan ibu tidak mengizinkan karena dirinya memiliki tugas menggembalakan kambing milik tetangganya. Namun Eko tetap bersikukuh untuk ikut dalam klub angkat besi tersebut. “ Karena tekadnya kuat maka si ibu akhirnya mengizinkan,” terang sang Ayah,Saman.

Setelah mendapat izin, berangkatlah Eko ke klub angkat besi tersebut. Di sana, dia berlatih dengan sangat keras. Melihat kegigihan Eko dalam berlatih, pelatihnya merekomendasikannya untuk ikut bergabung dalam Timnas Angkat Besi Indonesia yang akan berangkat ke Kejuaraan Dunia di Santo Domingo, Republik Dominika pada 2006. Karena hubungan sang pelatih dengan offisial Indonesia sangat dekat, maka Eko pun diikutsertakan dalam kejuaraan tersebut.

Kesempatan emas ini tidak disia-siakan Eko. Bersama Timnas angkat besi, dirinya pun berlatih dengan keras. Kerja keras Eko tidak sia-sia, karena di dalam kejuaraan dunia tersebut dirinya meraih peringkat 8 di kelas 56 kg dengan total angkatan 266 kg.

Prestasi ini membuat Eko dipercaya oleh PB PABSI untuk bertanding di kejuaraan dunia junior yang digelar di Praha, Republik Ceko pada tahun 2007. Dan di kejuaraan tersebut, Eko berhasil meraih medali emas sekaligus terpilih sebagai lifter terbaik pada ajang tersebut.

Tampil ciamik di dalam pertandingan tersebut, membuat Eko kembali dipercaya  berbagai pertandingan dunia mulai dari PON, SEA Games, Asian Games, kejuaraan dunia hingga ajang Olimpiade. Hasilnya ia mampu membawa pulang medali emas, perak serta perunggu dalam berbagai pertandingan tersebut.

Hal yang sama juga ditorehkan Eko, dalam Olimpiade Tokyo 2021, meski tidak mendapatkan emas dikarenakan kalah  jumlah total angkatan dari lifter asal China Li Fabin. Dirinya yang turun di kelas 61 Kg, harus puas menempati urutan ke-2 dan mendapatkan medali perak. Medali perak sendiri merupakan anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya. Untuk itulah seusai pengalungan medali, Eko mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dirinya juga mengucapkan syukur kepada Tuhan, pasalnya berkat angkat besi yang digelutinya rumah Eko yang awalnya hanya bilik bambu kini berubah menjadi bagus dan rapih. Tak hanya itu kehidupan yang awalnya sangat susah kini berubah drastis menjadi serba kecukupan.” Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Allah SWT, atas hidayah yang diberikan kehidupan kami menjadi serba kecukupan,Alhamdulillah,” tutup Eko.

Biodata :

Nama lengkap: Eko Yuli Irawan

Tempat, tanggal lahir: Lampung, 24 Juli 1989

Usia: 31 tahun

Kewarganegaraan: Indonesia

Nama Orang Tua : Saman (Ayah), Wastiah (Ibu)

Tinggi badan: 160 cm

Berat badan: 60,95 kg

Cabang olahraga: Angkat besi

Prestasi: Olimpiade: Medali perunggu (2008,2012), Medali perak (2016, 2020) Kejuaraan Dunia: Medali perunggu (2007, 2011), Medali perak (2009, 2014), Medali emas (2018) Asian Games: Medali perunggu (2010, 2014), Medali emas (2018).(Hs.foto.dok.pribadi)


Related posts