FESTIVAL BEBAS BATAS

Galnas,Gpriority-menjamin persamaan hak antara orang dengan disabilitas dan yang tidak merupakan bunyi salah satu pasal di undang-undang (uu) no.8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas . Undang-undang ini menyebut disabilitas adalah orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama dan menjadi sumber hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan maupun berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lain berdasar kesamaan hak.

Tentu benar bila para penyandang disabilitas memiliki keterbatasan dalam interaksi sosialnya. Namun, keterbatasan itu menjadi tidak selalu tepat di ranah ekspresi seni para penyandang disabilitas. Keterbatasan mereka justru bisa melampaui batas-batas bernama konvensi dalam seni itu sendiri. Mereka tak peduli dengan komposisi, tak memusingkan proporsi, dan tak memiliki beban untuk menyampaikan makna-makna canggih di balik sebuah karya. Mereka juga tak pening dengan bayangan apakah karyanya akan dapat disambut apresiatornya atau tidak.

Sampai hari ini, karya-karya seni disabilitas masih jauh dari apresiasi yang jujur. Karya mereka sering dianggap bagus karena iba pada keterbatasan penciptanya- beserta proses penciptaannya. Apresiasi yang lazim muncul kerap tidak berdasar indikator artistik layaknya apresiasi kepada karya-karya seni nondisabilitas. Di saat yang sama, irisan antara seni dan disabilitas banyak juga berkutat di arena bernama seni untuk terapi.

Seharusnya karya disabilitas mendapat apresiasi jujur. Apresiasi yang melihat karya sebagai karya. Di sisi lain, hingga saat ini Indonesia belum pernah memiliki sebuah panggung yang mempertemukan karya disabilitas dengan kurasi ketat lazimnya sebuah arena kesenian. Karya-karya disabilitas banyak terserak dalam berbagai program seni budaya yang berhenti pada arena menampilkan eksistensi dan ekspresi disabilitas; atau berkutat di area seni sebagai terapi.

Bertolak dari situasi semacam itu, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Festival Bebas Batas 2018 pada 12-29 Oktober 2018 di Galeri Nasional Indonesia.

Festival Bebas Batas 2018 bertujuan menjadi bagian dari edukasi kepada publik bahwa para disabel/difabel memiliki peranan yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus memberikan ruang berkarya, serta menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap karya seni para disabel/difabel. Festival Bebas Batas juga bertujuan untuk:

  • Menunjukkan kepada publik rupa-rupa karya disabel/difabel
  • Memantik pemahaman publik tentang relasi antara seni dan disabel/difabel
  • Membuka apresiasi publik kepada karya seni seniman disabel/difabel
  • Mendorong karya disabel/difabel menjadi bagian penting dalam dunia seni Indonesia (Hs)

Related posts

Leave a Comment