Jakarta, GPriority.co.id – Asosiasi Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) menyoroti tingginya beban pajak mobil di tanah air.
Dilansir dari laman IKPI, nenurut Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, saat ini pajak mobil di Indonesia menyentuh hingga sekitar 40 persen dari harga jual mobil. Jika dirinci, terdapat sederet instrumen pajak yang harus disetorkan penjual mobil kepada pemerintah pusat dan daerah.
Untuk pemerintah pusat, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang harus disetorkan sebesar 12 persen ditambah Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) senilai 15 persen. Tak sampai disitu, Bea Balik Nama Kendaraan Bermoto (BBNKB) senilai 12,5 persen dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKN) senilai 2,5 persen juga harus disetorkan kepada pemerintah daerah.
Akibat tingginya beban pajakk tersebut, daya beli konsumen pun kini semakin tertekan. Jongkie mencontohkan saat masa pandemi COVID-19 pemerintah memberikan relaksasi berupa PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), harga mobil langsung turun hingga penjualan pun melonjak.
Ia mengatakan, apabila masyarakat menginginkan harga mobil yang lebih terjangkau di tanah air, maka pemerintah harus menurunkan pajak yang saat ini diberlakukan. Kendati demikian penurunan pajak harus dilakukan dengan hati-hati.
Di lain sisi, menurut data Gaikindo, saat ini penjualan mobil di Indonesia sedang mengalami perlambatan dalam 3 tahun terakhir. Jika di tahun 2023 penjualan mobil berada di 1.048.040 unit, di tahun 2024 menurut menjadi 865.723 unit. Bahkan per Januari-Oktober 2025 jumlahnya semakin merosot ke angka 660.000 unit.
Adapun penyebab utamanya disinyalir karena daya beli masyarakat yang menurun. Sehingga, masyarakat pun kini lebih berfokus untuk kebutuhan sehari-hari dan produk mobil bukan lagi menjadi prioritas.
Dari sisi Gaikindo, di tahun ini mereka menetapkan target lebih rendah hanya 850 ribu unit. Namun penjualan mobil per Oktober 2025 masih melemah di angka 660 ribu unit. Guna mencapai target, di bulan November dan Desember, penjual mobil harus menyentuh 95 ribu unit, meski penjualan mobil di tahun 2025 sulit mencapai angka 60 ribu per bulan.
Salah satu langkah yang dilakukan Gaikindo guna mengatasi permasalahan tersebut ialah dengan menyelenggarakan pameran GJAW 2025 yang tujuan utamanya untuk menaikkan angka penjualan mobil meski saat ini daya belinya sedang melemah.
