Gelar Buka Puasa Perdana, Wali Kota New York Zohran Mamdani Disebut Mengganggu

Momen Zohran Mamdani saat menggelar buka puasa perdana di Balai Kota New York atau City Hall, beberapa waktu lalu/Foto : Dok. Instagram @zohrankmamdani Momen Zohran Mamdani saat menggelar buka puasa perdana di Balai Kota New York atau City Hall, beberapa waktu lalu/Foto : Dok. Instagram @zohrankmamdani

New York, GPriority.co.id – Wali Kota New York, Zohran Mamdani, menggelar acara buka puasa bersama (iftar) perdana di Balai Kota New York atau City Hall beberapa waktu lalu.

Dilansir dari The Times of India, acara ini menjadi momen bersejarah karena Mamdani merupakan wali kota Muslim pertama dalam sejarah kota tersebut sekaligus tokoh yang membawa simbol keberagaman dalam pemerintahan kota terbesar di Amerika Serikat.

Acara iftar tersebut dihadiri oleh pejabat kota, pemimpin komunitas Muslim, tokoh lintas agama, serta warga New York dari berbagai latar belakang. Kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan bulan suci Ramadan sekaligus bentuk upaya memperkuat hubungan antara pemerintah kota dengan komunitas Muslim di New York.

Dalam acara tersebut, Mamdani menekankan pentingnya kebersamaan dan toleransi antar komunitas di kota yang dikenal sebagai salah satu kota paling multikultural di dunia. Ia juga menyebut bahwa tradisi berbuka puasa bersama tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga sosial karena mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam satu meja.

Sebagai wali kota ke-112 New York yang mulai menjabat pada 1 Januari 2026, Mamdani mencatat sejarah sebagai wali kota Muslim dan Asian American pertama di kota tersebut. Ia terpilih setelah memenangkan pemilihan wali kota 2025 dan menggantikan Eric Adams.

Namun, penyelenggaraan iftar perdana di City Hall juga memicu perdebatan di ranah politik Amerika Serikat. Beberapa politisi konservatif mengkritik acara tersebut, bahkan ada yang menyebutnya sebagai sesuatu yang “mengganggu”. Kritik itu memicu reaksi balik dari banyak pihak yang menilai komentar tersebut sebagai bentuk intoleransi terhadap praktik keagamaan.

“Ini menjijikan,” kata aktivis politik sayap kanan dan penganut teori konspirasi, Laura Loomer.

“Islam tidak sesuai dengan peradaban Barat,” tambah yang lainnya, sebagaimana dikutip dari laman Chron.

Menanggapi kritik tersebut, Mamdani menyatakan bahwa perhatian publik seharusnya tidak hanya tertuju pada kegiatan buka puasa yang ia gelar, tetapi juga pada berbagai isu sosial yang lebih mendesak seperti kemiskinan dan kelaparan anak. Ia mengatakan bahwa seharusnya ada tingkat kepedulian yang sama ketika anak-anak mengalami kelaparan seperti ketika orang-orang marah karena dirinya berbuka puasa bersama warga.

Bagi banyak pengamat, acara iftar di City Hall tersebut mencerminkan perubahan simbolik dalam politik kota New York yang semakin inklusif. Kota ini memiliki populasi Muslim yang besar dan beragam, sehingga kegiatan tersebut dianggap sebagai bentuk pengakuan terhadap keberagaman budaya dan agama yang menjadi bagian dari identitas kota.

Selain itu, kegiatan ini juga menunjukkan upaya pemerintah kota untuk menjadikan City Hall sebagai ruang publik yang terbuka bagi seluruh komunitas. Dengan menggelar acara berbuka puasa bersama, Mamdani berharap dapat mempererat hubungan antar komunitas sekaligus memperkuat semangat persatuan di tengah perbedaan.

Dengan langkah tersebut, iftar perdana di Balai Kota New York tidak hanya menjadi acara keagamaan, tetapi juga simbol politik dan sosial yang menunjukkan bagaimana keberagaman dapat dirayakan dalam pemerintahan modern.