Washington, Gpriority.co.id – Amerika Serikat (AS) mencatat sejarah baru dengan aksi demonstrasi massal bertajuk “No Kings” yang melibatkan sedikitnya 8 juta partisipan di 50 negara bagian. Gelombang protes yang digelar pada Sabtu (28/3) ini menjadi bentuk perlawanan terhadap gaya kepemimpinan otoriter Presiden Donald Trump dan kebijakannya, termasuk intervensi militer di Iran.
Diselenggarakan oleh koalisi progresif seperti 50501 Movement, Indivisible, dan MoveOn, aksi ini disebut sebagai “protes tanpa kekerasan terbesar dalam sejarah modern AS”, memecahkan rekor Black Lives Matter 2020.
Lebih dari 3.300 titik aksi tersebar dari Minnesota hingga New York, dengan demonstrasi solidaritas di Eropa seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma. Massa menuntut penghentian perang AS melawan Iran, reformasi kebijakan imigrasi yang keras oleh ICE terhadap imigran ilegal, perlindungan hak pilih serta demokrasi dari penyalahgunaan kekuasaan, serta penanganan ketimpangan ekonomi, tarif tinggi, dan biaya hidup yang melonjak.
Di New York, aktor pemenang Oscar Robert De Niro hadir di demonstrasi terpadat, menyebut Trump sebagai ancaman bagi kebebasan. Sementara di Minnesota, Gubernur Tim Walz dan Senator Bernie Sanders menyampaikan pidato kritis terhadap kebijakan imigrasi Trump. Walz, di depan 100.000 massa di Gedung Capitol Minnesota, menyerukan perlawanan terhadap tindakan keras ICE yang mengganggu otonomi lokal.
“Ini titik balik bagi hak sipil,” tegasnya, sambil menekankan Minnesota sebagai “labor state” yang melindungi pekerja, pendidikan, dan anak sekolah dari agenda Trump. Tokoh lain seperti Jane Fonda, Bruce Springsteen, dan Joan Baez juga memimpin massa di lokasi utama.
Meski dimulai damai, situasi memanas di Los Angeles dengan bentrokan antara demonstran dan polisi. Aparat menggunakan gas air mata, granat asap, dan melakukan penangkapan massal setelah perintah bubar. Demonstran membawa poster yang mengkritik biaya hidup dan ancaman konstitusi.
Protes ini menandai puncak ketegangan sosial-politik di bawah pemerintahan Trump pasca-pemilu 2024. Tingkat persetujuan Trump anjlok ke 36%, terendah sejak dilantik pada 2025, menambah tekanan menjelang pemilu paruh waktu November 2026. Partisipasi melonjak bahkan di basis MAGA seperti Idaho dan Wyoming, menunjukkan kekecewaan bipartisan. Basis Republik menyebutnya “hate rallies”, sementara progresif melihatnya sebagai simbol solidaritas global.
Dampak ekonomi minim meski ada gangguan lalu lintas di kota besar dan boikot fasilitas federal sementara. Koalisi lebih dari 300 kelompok lokal, termasuk serikat pekerja dan ACLU, mengoordinasikan aksi ini sebagai gelombang ketiga sejak 2025.
Foto : Istimewa
