Ilmuwan Beberkan Bukti Manusia Hobbit di Pulau Flores Masih Hidup

Ilustrasi manusia hobbit (Homo Floresiensis) di Pulau Flores, NTT/Foto : Dok. Istimewa Ilustrasi manusia hobbit (Homo Floresiensis) di Pulau Flores, NTT/Foto : Dok. Istimewa

NTT, GPriority.co.id – Manusia purba berukuran kecil yang dijuluki “hobbit” atau Homo floresiensis kembali menjadi sorotan setelah seorang antropolog menyatakan spesies yang diyakini telah punah sekitar 50.000 tahun lalu itu mungkin masih bertahan hidup di pedalaman Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Klaim tersebut disampaikan antropolog Gregory Forth, yang selama bertahun-tahun meneliti masyarakat di Flores. Menurutnya, berbagai laporan warga lokal mengenai makhluk kecil mirip manusia tidak seharusnya langsung dianggap sebagai cerita rakyat semata.

“Perlu diingat bahwa banyak spesies telah dikenal oleh masyarakat lokal (misalnya komodo di sekitar Flores) jauh sebelum akhirnya diakui oleh para ilmuwan,” ujar Forth pada Jumat (3/7) lalu, sebagaimana dikutip dari laman Popular Mechanics, Selasa (7/7).

Forth menilai kesaksian masyarakat setempat layak diteliti secara ilmiah karena dapat membuka kemungkinan bahwa populasi kecil kerabat manusia purba masih bertahan di wilayah yang sulit dijangkau. Namun, ia juga mengakui bahwa hingga kini belum ada bukti fisik yang dapat membuktikan hipotesis tersebut.

Meski menarik perhatian publik, sebagian besar pakar paleoantropologi tetap bersikap skeptis. Peneliti dari Smithsonian Institution, Matthew Tocheri, menegaskan bahwa keberadaan spesies manusia purba yang masih hidup seharusnya meninggalkan jejak biologis yang jelas.

Menurut Tocheri, tanpa ditemukannya spesimen, DNA, atau fosil baru yang menunjukkan keberlangsungan populasi tersebut, klaim itu belum dapat diterima sebagai fakta ilmiah.

Homo floresiensis pertama kali ditemukan di Gua Liang Bua, Flores, pada 2003. Spesies ini memiliki tinggi sekitar 106 sentimeter dengan otak kecil, tetapi mampu membuat alat-alat batu. Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa mereka kemungkinan bukan pemburu aktif seperti yang selama ini diperkirakan.

Analisis lebih dari 4.000 tulang hewan mengungkapkan bahwa manusia hobbit kemungkinan hanya memanfaatkan sisa daging dari mangsa yang lebih dulu diburu komodo. Para peneliti juga tidak menemukan bukti penggunaan api secara rutin, sehingga gambaran mengenai kemampuan teknologi mereka kini berubah.

Penelitian lain yang dipublikasikan pada 2025 menunjukkan kepunahan Homo floresiensis kemungkinan dipicu oleh kekeringan berkepanjangan yang menyebabkan berkurangnya populasi Stegodon, gajah kerdil yang menjadi salah satu sumber makanan mereka.

Perubahan iklim tersebut diduga memaksa mereka berpindah ke wilayah pesisir dan akhirnya bersaing dengan manusia modern (Homo sapiens) yang mulai memasuki kawasan Asia Tenggara sekitar 50.000 tahun lalu.

Dengan demikian, hingga saat ini klaim bahwa manusia hobbit Flores masih hidup masih sebatas hipotesis yang belum didukung bukti ilmiah langsung.

Meski demikian, kisah Homo floresiensis tetap menjadi salah satu misteri paling menarik dalam sejarah evolusi manusia karena terus memunculkan pertanyaan baru tentang keragaman nenek moyang manusia di Bumi.