Kawasan Peternakan Aceh Tamiang Terbengkalai Selama Lima Tahun Lebih

Aceh Tamiang,Gpriority- Lokasi kawasan peternakan milik Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan (Distanbunak) Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh yang berlokasi di Desa Alur Jambu Kecamatan Bandar Pusaka terbengkalai.

Kondisi itu, diketahui sudah berlangsung selama lima tahunan lebih. Hal itu dibuktikan dengan kondisi fisik beberapa bangunan serta pagar pada lokasi kawasan peternakan itu yang sudah mulai terlihat usang dan tidak terawat.

Bahkan, ketika Gpriority melihat langsung ke lokasi tersebut, terdapat beberapa pintu bangunan itu engsel atau pengaitnya sudah terlepas dari tiang pintu, dan diikat menggunakan kawat agar pintu tidak terlepas dan jatuh.

Dan di bagian belakang bangunan itu, juga terlihat beberapa pintu penyekat yang sudah terlepas yang tidak terpasang lagi, disusun menjadi satu di atas sebuah kolam semen berukuran kurang lebih 60×80 sentimeter, dengan ke dalam sekitar 80 sentimeter, diduga tempat itu awalnya digunakan sebagai wadah penampungan air untuk minum sapi.

Tidak hanya itu, di sekeliling bangunan itu terlihat tumbuhan-tumbuh liar tumbuh subur, sehingga menutupi sebagian dinding bangunan tersebut.

Kepala Distanbunak Kabupaten Aceh Tamiang, Yunus membenarkan jika kawasan peternakan milik Distanbunak yang berlokasi di salah satu desa di Kecamatan Bandar Pusaka itu sudah bertahun-tahun tidak difungsikan.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan (Distanbunak) Kabupaten Aceh Tamiang, Yunus

“Iya. Kawasan itu sudah lama sekali tidak difungsikan,” kata Yunus kepada Gpriority, Selasa (12/2021) kemarin.

Salah satu faktor penyebabnya, Yunus mengaku dikarenakan tidak adanya anggaran operasional, sehingga pihaknya terpaksa harus mengosongkan kawasan itu.

Sebelumnya, kata Yunus, pihak pemerintah kabupaten setempat melalui Distanbunak sudah melakukan pemanfaatan kawasan itu melalui program penggemukan sapi selama beberapa kali.

“Tahun 2012, untuk pertama kalinya Dinas memfungsikan kawasan itu melalui program penggemukan sapi, atau setahun setelah bangunan dikawasan selesai dibuat,” katanya.

Namun, seiring berjalannya waktu, program tersebut tidak berjalan semulus seperti apa yang telah direncanakan. Kian hari sapi-sapi di peternakan itu terlihat semakin kurus.

“Tubuhnya bukan bertambah gemuk, malah terlihat kecil dan tidak berkembang. Sehingga saat itu dinas berfikir untuk menghentikan program penggemukan sapi itu, setahun setelah berjalan,” katanya.

Selanjutnya, pihak dinas memutuskan untuk segera melakukan pelelangan terhadap sapi-sapi yang berada di kawasan itu. Hal itu terpaksa dilakukan dinas, sebab, menurut Yunus, jika tetap terus dipaksakan pihaknya akan semakin merugi.

“Sebab, harga beli dengan penjualan tidak sebanding. Bahkan, kondisi itu semakin diperparah lagi dengan tidak tersedianya anggaran operasional yang digelontorkan pemerintah saat itu,” katanya.

Di sisi lain, terbatasnya ketersediaan lahan rumput sebagai pakan ternak di dalam kawasan itu. Selain itu, ketersediaan dan keterbatasan air juga menjadi faktor penyebab lainnya. Sementara menurutnya, salah satu kebutuhan dan syarat dasar yang paling penting dalam proses penggemukan sapi adalah ketersediaan air dan rumput sebagai pakan yang cukup.

“Jadi dengan luas lahan yang ada saat ini, sangat kecil kemungkinan untuk berhasil. Akan tetapi, jika kawasan itu memiliki lahan di atas 20 hektare luasnya, besar harapannya untuk berhasil,” katanya.

Sebab, menurutnya, sebagian lahan itu nantinya dapat difungsikan khusus sebagai lahan ketersedian pakan untuk ternak. “Di atas lahan itu khusus untuk ditanami rumput sebagai pakan sapi,” sebutnya.

Lebih lanjut, Yunus mengungkapkan, luas lahan kawasan peternakan milik Distanbunak yang berada di Desa Alur Jambu, hasil pemberian salah satu pengusaha perkebunan kelapa sawit di Aceh Tamiang pada waktu itu sejatinya adalah seluas 40 hektar.

Namun, kata Yunus, Pemkab Aceh Tamiang saat itu lamban dalam melakukan pengurusan kepemilikan lahan, akhirnya lahan itu banyak diserobot masyarakat, sehingga lahan yang tersisa saat ini hanya seluas 4,1 hektar.

“Dan 4 hektare lahan itu, yang sekarang berdiri bangunan kawasan peternakan, kini sudah memiliki surat kepemilikan sah, atas nama Distanbunak Aceh Tamiang,” katanya.

Meskipun, Yunus tidak menampik jika pihaknya telah membiarkan bangunan pada kawasan peternakan itu, dan tidak memfungsikan sebagaimana mestinya, sehingga terkesan seperti bangunan yang terbengkalai selama 5 tahun lebih, dirinya mengaku akan segera melakukan upaya untuk pemanfaatan bangunan itu kembali, dan berencana akan segera melakukan alih fungsi terhadap lokasi itu.

“Untuk alih fungsinya, rencana akan dialihkan menjadi pusat pengembangan ternak di lokasi itu, yang sebelumnya adalah penggemukan,” katanya.

Kendati demikian, Yunus menyebutkan, pihaknya tidak ingin melakukannya secara tergesa-gesa tanpa melakukan perhitungan dan perencanaan yang matang sebelumnya. Sebab, Ia mengaku tidak ingin masuk ke dalam lubang yang sama.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemkab Aceh Tamiang dan juga pihak pemerintah provinsi, khususnya Dinas Peternakan Aceh, apakah boleh dilakukan alih fungsi di lokasi itu nantinya, dari penggemukan ke pengembangan.

“Meskipun hasil dari pengembangan ternak itu nantinya akan diberikan langsung kepada masyarakat secara cuma-cuma. Namun kami tetap menunggu izin,” ujarnya. (Zulfitra.Foto.Zulfitra)

Related posts