Kehidupan Nomaden Suku Sakai

Indonesia memang kaya akan suku dan budaya. Salah satunya adalah Suku Sakai. Mendengar nama Suku Sakai mungkin masih sangat asing di telinga. Suku Sakai merupakan salah satu suku asli di Riau yang pola hidupnya berpindah-pindah.

Meskipun hidup berpindah-pindah, Suku Sakai juga tetap melakukan aktivitas agraris seperti berkebun. Hal tersebut ditunjukan lewat alat gegalung galo yang dimiliki. Alat itu berguna untuk menjepit ubi manggalo yang kemudian dikumpulkan saripatinya untuk dimakan.

Suku ini tergolong dalam ras Veddoid, dengan ciri-ciri kulit berwarna cokelat kehitaman dan rambut keriting berombak. Tinggi tubuh laki-lakinya sekitar 155 sentimeter dan perempuan 145 sentimeter.

Suku Sakai hidup di hutan belantara. Di sanalah mereka mencari nafkah dari hasil berburu, menangkap ikan, dan hasil hutan. Suku ini masih melestarikan berbagai upacara adat, seperti upacara kematian, kelahiran, dan pernikahan.

Mereka juga memiliki ritual khusus untuk berbagai peristiwa penting dalam hidup, seperti untuk menanam padi, menyiang, sorang sirih, dan tolak bala. Untuk berkomunikasi, mereka menggunakan bahasa Melayu bercampur Minangkabau dan Mandailing.

Orang Sakai banyak yang memeluk Islam. Tapi di antara mereka ada yang masih memiliki kepercayaan animisme, yakni semacam kepercayaan terhadap kekuatan magis dan makhluk halus. Dalam bahasa mereka, makhluk gaib atau halus ini kerap dipanggil sebagai Antu.

Pemandangan Suku Sakai dengan baju kulit kayu yang mungkin umum dilihat 30 yang lalu sudah tak terlihat. Masyarakat Suku Sakai kini sudah banyak berbaur dengan warga Riau lain. (VIA)

Related posts