Kemenkes Targetkan Eliminasi Kanker Leher Rahim pada 2030

Ilustrasi rahim wanita/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkomitmen mengeliminasi kanker leher rahim pada 2030 melalui penguatan kebijakan serta layanan skrining yang terintegrasi.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa visi bebas kanker leher rahim bukan sekadar target kesehatan, melainkan wujud komitmen negara dalam melindungi kehidupan perempuan serta keberlangsungan generasi bangsa.

Kanker leher rahim masih menjadi kanker terbanyak kedua pada perempuan di Indonesia. Sekitar 70 persen kasus baru terdiagnosis pada stadium lanjut, dan hampir 50 persen penderitanya kehilangan nyawa. Di balik angka ini, ada ibu, istri, dan anak perempuan yang memegang peran penting dalam keluarga dan masa depan bangsa,” ujar Dante dalam Diseminasi Hasil Studi Implementasi untuk Mendukung Program ILP; Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim dengan DNA HPV di Provinsi Jawa Timur, dikutip dari situs Kemenkes, Rabu (28/1).

Menurut Dante, persoalan kanker serviks harus dipandang sebagai isu sistemik yang membutuhkan solusi komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan, bukan semata persoalan medis.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan studi percontohan skrining kanker leher rahim dengan metode DNA HPV di Jawa Timur yang didukung oleh Jhpiego, Roche, dan Biofarma. Studi tersebut dinilai mampu memberikan gambaran nyata terkait kesiapan layanan dan efektivitas strategi skrining di tingkat akar rumput.

“Pilot studi ini memberikan snapshot penting tentang kinerja kita dalam memperkuat layanan kanker serviks di lapangan. Pemerintah membutuhkan gambaran yang jujur dan kritis, mulai dari kesiapan fasilitas kesehatan hingga hambatan akses bagi kelompok kunci,” jelasnya.

Dante berharap studi tersebut menghasilkan rekomendasi strategis yang dapat ditindaklanjuti bersama, khususnya dalam meningkatkan perilaku pencarian layanan kesehatan pada perempuan, memperkuat tata kelola fasilitas kesehatan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia kesehatan, serta mendorong inovasi program berbasis pemberdayaan masyarakat.

“Eliminasi kanker serviks adalah agenda bersama. Pemerintah menyambut dan mendukung kolaborasi strategis lintas sektor, karena penanganan kanker serviks membutuhkan kemitraan yang inklusif dan kemampuan kita untuk melangkah bersama melampaui sekat sektoral,” pungkasnya.