Jakarta, GPriority.co.id – Data terbaru Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyebut jika sebanyak 10,7 juta warga Indonesia mencari pekerjaan setiap tahunnya.
Seperti dikutip dari ANTARA pada Selasa (30/9), angka tersebut didapatkan Kemnaker dari rata-rata lulusan yang masuk pasar tenaga kerja, yaitu 3,5 juta orang per tahun. Ditambah lagi, jumlah pengangguran di Indonesia saat ini mencapai 7,2 juta orang.
Namun, jumlah tersebut belum termasuk dengan pekerja yang mengundurkan diri atau menjadi korban PHK sebanyak 4,8 persen, terendah sejak era reformasi. Oleh sebab itu, Kemnaker pun mengatakan jika pertumbuhan tenaga kerja menjadi tantangan setiap tahunnya.
Menurut Kemnaker, tantangan lain dalam pasar kerja ialah adanya ketidakcocokan kompetensi, rendahnya kualitas tenaga kerja, hingga latar pendidikan yang rendah, juga dampak adanya digitalisasi dan perkembangan teknologi saat ini. Ditambah lagi dengan perubahan akibat ekonomi global dan transisi menuju ekonomi hijau.
Saat ini pemerintah terus mendorong pemberi kerja untuk melaporkan lowongan yang mengikuti aturan pada Perpres Nomor 57 Tahun 2023 melalui kanal KarirHub. Pemerintah juga menyediakan layanan digital ketenagakerjaan melalui aplikasi SiapKerja. Lewat upaya tersebut, diharapkan dapat menciptakan ekosistem pasar kerja yang lebih baik dan inklusif.
Di sisi lain, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) yang dirilis Bank Indonesia (BI) belum lama ini menunjukkan adanya penurunan yang terjadi terus menerus.
Penurunan IKLK ini menjadi pertanda bahwa lapangan kerja semakin sulit didapatkan masyarakat. Ditambah lagi, dalam 4 bulan berturut-turut, IKLK masuk ke zona pesimis dengan nilai di bawah 100.
Menurunnya IKLK juga berpengaruh terhadap Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) yang ikut menurun. Sebagai informasi, IKE menjadi indikator yang menunjukkan persepsi masyarakat terhadap perekonomian nasional. Mulai dari pendapatan, ketersediaan lapangan kerja, hingga pembelian barang tahan lama. Dengan menurunnya IKE, maka daya beli pun menurun, peluang kerja semakin sedikit, hingga minat konsumsi masyarakat kian melemah.
Jika optimis masyarakat menurun, maka akan langsung berdampak pada konsumsi rumah tangga. Apabila mereka sulit mendapat pekerjaan atau mempertahankannya, maka mereka akan cenderung menahan untuk melakukan transaksi belanja.
Apabila kondisi ini terjadi dalam jangka waktu panjang, maka dapat menekan permintaan dalam negeri hingga memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional.
