Kepala GNI Pustanto: Pameran Seni Rupa Akan Menjadi Lebih Hidup Jika Dibarengi Dengan Diskusi

Jakarta,Gpriority-Untuk ke-3 kalinya, Galeri Nasional Indonesia (GNI) menggelar bicara rupa secara virtual melalui aplikasi zoom dan facebook. Bicara rupa merupakan salah satu program acara pendukung pada pameran daring IV “ Pandemi” yang diigelar sejak 8 Agustus 2020 melalui laman https://galnasonline.id/.

Kepala GNI Pustanto pun menyambut baik digelarnya acara ini. Menurut Pustanto forum diskusi seperti ini diperlukan untuk pengembangan wacana sebuah pameran seni rupa. “Pameran seni rupa memang menyuguhkan sajian visual untuk dinikmati. Namun akan menjadi lebih hidup dan bermanfaat ketika sebuah pameran seni rupa direspons melalui diskusi-diskusi yang melibatkan para praktisi di berbagai bidang yang relevan,” ujarnya.

Diskusi tersebut menurut Pustanto menambahkan, merupakan suatu upaya untuk mengembangkan pewacanaan sekaligus merumuskan kemungkinan-kemungkinan baru yang inovatif. “Semoga acara ini menjadi diskusi yang membangun, menginspirasi, dan memotivasi berbagai pihak untuk terus semangat berkontribusi dalam mengembangkan dan memajukan seni rupa Indonesia,” pungkas Pustanto.

Di Jilid ke-3 yang digelar Jum’at siang (6/11/2020), GNI mengangkat tema Ontologi Layar: Representasi dalam Praktik Seni dan Budaya Media di Tengah Pandemi. Tema ini sengaja diangkat dikarenakan di tengah kondisi pandemi, ekspresi karya seni harus beradaptasi dengan cara interaksi dan komunikasi yang baru yaitu lewat layar. Ini pula yang tampak dalam Pameran Daring Manifesto VII “PANDEMI”.

“ Untuk itulah ke-5 narasumber yang hadir secara virtual seperti Kepala Galeri Nasional Indonesia (GNI), Pustanto. Kurator Pameran Daring Manifesto VII “PANDEMI”, Sudjud Dartanto, jurnalis Seni,Nawa Tunggal, peneliti budaya media, Dosen FISIPOL UGM serta Kajian Media dan Budaya Sekolah Pasca sarjana UGM Budi Irawanto dan seniman media Benny Wicaksono di dalam paparannya membahas mengenai Manifesto VII, seperti latar belakang pemilihan Pameran secara daring melalui layar, pola-pola apa saja yang berubah ketika sebuah pameran seni rupa dipresentasikan melalui layar, menggali akar kebaruan media baru, bagaimana layar berhadapan dengan media baru dan metamorfosis layar, hingga perspektif seniman media dalam melihat potensi-potensi teknologi yang ada di sekitarnya,” ucap Kurator Galeri Nasional Indonesia Bayu Genia Krishbie yang memandu jalannya acara.

Bayu berharap, materi-materi yang diberika oleh pembicara bisa bermanfaat bagi para pecinta seni lukis di Indonesia.(Hs.Foto.dok.HS)

Related posts