MAYJEN TNI H. AGUS ROHMAN, S.I.P, M.I.P. MENELADANI PEMIMPIN TNI YANG RELIGIUS

Pemimpin itu dibentuk. Ia tidak lahir begitu saja. Kehidupan keagamaan Panglima yang diperoleh sejak kecil turut membentuk karakter kepribadiannya di masa-masa selanjutnya. Ia adalah pemimpin yang dibentuk, bukan lahir dari kocokan dadu.

Gpriority – Jakarta, Tidak seperti biasanya, lobi Markas Divisi Infanteri 1 Kostrad dipenuhi tamu, baik dari kalangan militer maupun kalangan sipil. Masih dalam suasana Idul Fitri 1440 H, pada malam itu Selasa (11/6), Divisi Infanteri 1 Kostrad menggelar _halal bihalal_. Malam itu menjadi istimewa karena buku Panglima Dari Bandung Selatan 88: Praktik Kepemimpinan Ala Mayjen TNI H. Agus Rohman, S.I.P, M.I.P. yang ditulis Kapten Arm Ahmad Budiman, S.Sos. diluncurkan.

“Tujuan dibuatnya buku ini sebagai biografi seorang tokoh militer yang telah memberikan sumbangsih pikiran, tenaga, dan waktunya untuk NKRI melalui pengabdiannya selama ini, dari mulai Letnan Dua sampai dengan Mayjen TNI, kata Kapten Arm Ahmad Budiman, S.Sos saat diwawancarai seusai acara.

Ia juga menyampaikan bahwa buku ini ditujukan untuk generasi muda, baik di kalangan militer maupun sipil, agar mereka mampu meneladani prestasi dan kepemimpinan Mayjen TNI H. Agus Rohman, S.I.P., M.I.P.

Dan diharapkan dari pengalaman Beliau, banyak generasi muda, baik militer maupun nonmiliter yang bisa meneladani kepemimpinan beliau. Bukan hanya sekadar teori, melainkan praktik-praktik yang ditunjukkan beliau, lanjutnya.
Kapten Arm Ahmad Budiman, S.Sos juga mengharapkan agar buku ini dapat memajukan budaya literasi di lingkungan militer dan menjadi sumber ilmu yang bermanfaat. Selain itu, ia juga mengaharapkan semoga kedepan banyak bermunculan sosok pemimpin masa depan yang religius, sebagaimana Mayjen TNI H. Agus Rohman, S.I.P., M.I.P.

Buku Panglima Dari Bandung Selatan, 88 Praktik Kepemimpinan ala Mayjen TNI H. Agus Rohman, S.I.P., M.I.P. selain mengungkap perjalanan karier militer Mayjen TNI H. Agus Rohman, S.I.P., M.I.P., hingga menduduki posisi penting sebagai Panglima Divisi Infanteri (Pangdivif) 1 Kostrad, juga berisi nilai-nilai kepemimpinan yang dipraktikkan beliau dalam memimpin kesatuannya. Buku ini sebenarnya dapat menjadi inspirasi dan referensi bagi khalayak pada umumnya untuk dapat menjadi seorang pemimpin religius di dalam kehidupan sehari-hari.

Panglima, demikian anggota kesatuan sering memanggilnya, merupakan pemimpin yang dalam tugas dan kesehariannya selalu mengedepankan aspek religiusitas. Dalam hal ini, ia sebagai pemeluk agama Islam meneladani religiusitas kepemimpinan Nabi Muhammad Sholallahhu ‘Alaihi Wassallam.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa, S.E.,M.A.,M.Sc.,M.Phil.,Ph.D. memberikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Beliau mengatakan, perjalanan hidup seorang pemimpin tentu menarik untuk ditafakuri. Pemimpin besar adalah ia yang mampu mengambil teladan dari orang lain dan mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari pengalamannya sendiri. Mempelajari keteladanan pemimpin besar berarti mengambil intisari nilai-nilai luhur dari sosok-sosok istimewa yang telah mendorongnya sampai pada puncak. Buku ini bercerita tentang perjalanan hidup serta nilai-nilai luhur kepemimpinan Mayjen TNI H.
Agus Rohman, S.I.P., M.I.P. yang merupakan salah seorang prajurit terbaik TNI AD.

Sebanyak 88 praktik kepemimpinan ala Panglima dituliskan kembali oleh Kepala Staf Pribadi Kapten Arm Ahmad Budiman, S.Sos. sebagai hasil interaksi. Interaksi tersebut antara lain saat aktivitas kedinasan sehari-hari maupun aktivitas lain dalam bertugas di instansi militer, dan juga hasil memotret gambar kecil dalam kepemimpinan Panglima baik di lingkup keluarga maupun lingkungan kehidupan sehari-hari.

Seperti disampaikan oleh penulis buku ini, Kaspri Pangdivif 1 Kostrad, Kapten Arm Ahmad Budiman, S.Sos saat peluncuran, buku ini berisi perjalanan hidup, seni dan gaya kepemimpinan serta prinsip hidup Panglima yang merupakan prajurit yang dilahirkan di Bandung Selatan di mana secara historis Bandung Selatan telah banyak melahirkan pejuang kemerdekaan. Panglima sebagai penerus dari tongkat perjuangan itu. Yakni perjuangannya dalam mempertahankan kedaulatan NKRI dan membangun organisasi TNI yang kemudian dirangkum menjadi 88 Praktik kepemimpinan.

Panglima, dalam upaya melakukan praktik kepemimpinan, berusaha memedomani dan meneladani akhlak Rosulullah Nabi Muhammad Sholallahhu ‘Alaihi Wassallam yang dapat diyakini kebenarannya. Rosulullah mampu membangun umat manusia dari sisi agama, ekonomi, politik, sosial budaya, sampai dengan mengatur strategi perang, dan memimpin perang untuk melawan kezaliman, serta membawa peradaban islam yang rahmatan lilalamin, peradaban yang penuh kasih sayang, hingga peradaban manusia menjadi lebih baik.

Meneladani Nabi Muhammad .Sholallahhu ‘Alaihi Wassallam.
Seperti dituliskan penulis buku ini Kapten Arm Ahmad Budiman, S.Sos, saat menjadi Ajudan Presiden RI,Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Panglima mulai intens mempelajari sifat-sifat Rosulullah. Pemicunya adalah Presiden RI ke-6 tersebut. Panglima mulai tertarik saat SBY merangkum buku akhlak Nabi. Panglima pernah melihat SBY membaca buku dengan sangat cepat. Dalam beberapa jam saja, buku yang tebal dapat dipahami oleh SBY.

Setelah menjadi Ajudan SBY, Panglima mulai intens membaca akhlak Rosulullah. Ada dua hal yang menjadi faktor Panglima meneladani Baginda Nabi. Faktor pertama adalah dari segi kelogisan dan pendekatan ilmiah. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa Rosulullah adalah tokoh yang berpengaruh di dunia. Hal ini sesuai dengan sifat rahmatan lilalamin. Faktor kedua adalah keimanan. sebagai muslim yang taat Panglima mengimani Rosulullah Sholallahhu ‘Alaihi Wassallam adalah sebaik-baik manusia yang merupakan Al Qur’an berjalan. Segala akhlaknya mencerminkan segala firman Allah Subhanahu Wataala untuk menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Sifat Rosulullah Sholallahhu ‘Alaihi Wassallam yang diteladani Panglima adalah siddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Misalnya Rosul sangat bersungguh-sungguh terhadap keputusannya yang telah disepakati. Demikiannya juga dengan Panglima bahwa ia berusaha berpegang teguh terhadap norma juga Undang-undang.

Sifat lain dari Rosul yang Panglima teladani adalah sifat siddiq (adil dan jujur). Panglima tidak suka dengan orang yang berbohong dan ia sendiri menerapkan prinsip kejujuran. Panglima menyadari bahwa jika meneladani sifat ini akan jauh dari kecurigaan dan prasangka buruk. Panglima ingin bebas dari beban di awal dan di kemudian hari. Jujur akan mengantarkan pada kebaikan dan kepada surga. Maka, ia istiqomah dengan jujur.

Sifat amanah ini telah ia tunjukkan. Panglima selalu menekankan pada anggotanya agar mengemban amanah sebaik-baiknya. Sifat berikutnya adalah tabligh atau komunikatif. Panglima meneladani sifat ini dengan sasarannya adalah keuarga dan organisasi yang besar. Di lingkup keluarga, Panglima selalu berkomunikasi tentang ajaran agama, mengajak anak dan istri untuk selalu mengingat Allah dan Rosulnya. Kepada para bawahan di organisasi, Panglima dalam komunikasinya selalu mengajak kebaikan sesuai dengan ajaran Rosul. Panglima selalu menganjurkan dan mengajak kepada kebaikan pada setiap kesempatan di depan forum. Bahkan kepada orang-orang yang menghadap ia untuk urusan dinas, Panglima senantiasa mengimbangi diskusi dengan mengajak kepada kebaikan. Panglima menyampaikan kepada prajurit yang menghadap untuk berdinas dengan baik, menjaga keluarganya dan saling menasehati tentang kebaikan di dalam keluarga.

Dalam melaksanakan kepemimpinan, Rosulullah sangat tegas, bahkan kepada keluarganya sendiri. Begitu juga dengan yang Panglima lakukan. Panglima adalah contoh pemimpin yang berani menyatakan kebenaran meskipun konsekuensinya berat. Panglima sangat tegas dengan seseorang yang melanggar hukum.

Sifat teladan Rosul berikutnya adalah fathanah (cerdas). Menurut Panglima, pemimpin itu harus banyak belajar. Panglima banyak belajar sehingga memiliki kecerdasan dan wawasan yang luas. Dengan kecerdasannya itu pula, Panglima tidak gampang berubah dalam dua keadaan. Panglima tetap tegak baik dalam masa keemasan maupun dalam masa terpuruk.

Dengan meneladani sifat-sifat Rosul pula, Panglima memahami dan menjalankan sistem organisasi yang baik. Panglima menguasai sifat pekerjaan ia sebagai Panglima Divisi Infanteri 1 Kostrad seperti mampu memberikan keputusan secara epat dan benar.

Lahir dari keluarga yang taat menjalankan pendidikan Agama Islam

Seolah ingin menyambut hari kemerdekaan, dua hari sebelum perayaan HUT Kemerdekaan RI yang ke 18 tepatnya pada 15 Agustus 1963, Agus Rohman lahir sebagai anak ketujuh dari pasangan Ahmad Mustafa dan Siti Rohmah Latifah. Agus sejak kecil lekat dengan pendidikan agama. Ia lahir tepatnya tepatnya di daerah Cibaduyut. Agus kecil mengenyam pendidikan yang berdasarkan pada aspek keagamaan yang kuat. Bahkan sang ibu mewajibkannya untuk mengaji di masjid. Pada buku tersebut diceritakan, suatu hari Dadang, salah satu adik Panglima, bermain hingga lupa waktu. Ia pun terlambat pulang ke rumah. Dengan gegas, Siti Rohmah Latifah membawa Dadang ke kamar mandi dan mengguyur tubuh Dadang yang masih mengenakan baju. Dadang pun dimandikan sambil menangis. Kemudian, Siti Rohmah Latifah pun menyuruh Dadang pergi mengaji.

Dalam buku tersebut terlihat peran penting orangtua dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya. Ayahnya memberikan pengajaran tentang disiplin, termasuk disiplin dalam menuntut ilmu dan aktivitas kehidupan sehari-hari yang religius. Pendidikan agama yang diberikan oleh orangtua Panglima tak lepas dari kedekatan keluarga Panglima dengan tokoh agama di Bandung Selatan.

Pada saat remaja, Panglima sendiri memiliki guru agama tempat ia berkonsultasi dan meminta nasehat. Kemudian, hal ini telah menjadi kebiasaan Panglima. Setiap ia ditugaskan di suatu daerah, ia selalu mendekatkan diri pada tokoh agama yang berada di lingkungan itu. Bukan saja sekadar dekat, melainkan Panglima menjadikan mereka sebagai guru.

Panglima merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1988, tercatat pernah menduduki sejumlah jabatan penting, antara lain pernah menjadi Ajudan Presiden RI Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.# Lukman A.Salendra

Related posts