Mengenal Cheongsam, Pakaian Tradisional Khas Tiongkok

Cheongsam atau yang dikenal juga dengan sebutan Qipao merupakan pakaian wanita khas negara Tiongkok dengan corak bangsa Tionghoa. Cheongsam memiliki gaya rancang yang khas, yakni siluet yang mengikuti lekuk tubuh. Seiring perkembangan, cheongsam hadir tak hanya dengan warna merah, tetapi juga dengan warna yang semakin beragam. Seperti merah muda, kuning keemasan, biru, hitam, putih dan berbagai padanan corak serta motif warna lainnya. Meski tergolong sebagai pakaian adat, namun Cheongsam sukses diterima dalam dunia busana internasional.

Dikisahkan pada awal bangsa Manchu (Dinasti Qing) menguasai Tiongkok, mereka mengorganisasikan rakyat, terutama bangsa Manchu, ke dalam “panji” (qi) dan disebut “rakyat panji” (qiren). Kemudian panggilan tersebut menjadi sebutan bagi seluruh bangsa Manchu. Wanita bangsa Manchu mengenakan pakaian yang dinamakan “qipao” atau “pakaian panji”.

Revolusi pada 1911 menggulingkan kekuasaan bangsa Manchu, namun kebiasaan pakaian wanita bangsa Manchu tetap bertahan. Kemudian dikembangkan dan menjadi pakaian tradisional wanita bangsa China. Pada 1920, cheongsam mulai merambah menjadi busana wanita di seluruh daratan China.

Cheongsam menjadi sangat populer di tahun 1920-1949. Namun, ketika pemerintahan komunis mulai menguasai China, busana cheongsam mulai dilupakan dan minim peminat. Selanjutnya, pada akhir tahun 1950, para imigran yang banyak berasal dari Shanghai membawa busana ini menjadi populer kembali di tanah baru, Hongkong. Para wanita Hongkong memadumadankan cheongsam dengan jaket atau cardigan untuk memudahkan pekerjaan mereka. Salah satu tokoh wanita yang mempopulerkan cheongsam adalah Nancy Kwan dalam perannya di filmThe World of Suzie Wong pada 1959.

Di Indonesia sendiri, baju Cheongsam banyak dipakai terutama pada saat menjelang tahun baru Imlek oleh kaum wanita keturunan Tionghoa. Selain itu, ada juga yang menggunakannya pada saat pesta pernikahan atau acara formal lainnya.

Cheongsam memiliki jenis yang beraneka ragam. Seperti leher tinggi, lengkung leher baju tertutup, dan berlengan panjang atau pendek yang penggunaannya tergantung dari musim dan selera. Cheongsam tradisional pada zaman dahulu banyak menggunakan bahan satin dan sutra dengan motif khas Tionghoa seperti bunga, burung, naga dan sebagainya. Sama seperti halnya penggunaan warna cerah yang memiliki makna tertentu, motif yang digunakan pada cheongsam juga memiliki arti khusus bagi masyarakat Tionghoa terutama pada masa perayaan Imlek.

Motif bunga yang terdapat pada cheongsam pada umumnya menggunakan motif bunga peony. Bunga peony memiliki makna kesejahteraan dan kekayaan. Ada juga motif bunga teratai, merupakan simbol dari pengorbanan yang sakral. Dalam masyarakat Tibet, bunga ini memiliki makna kecantikan yang suci. Sedangkan motif burung pada cheongsam melambang kecantikan dan kemurnian. (VIA)

Related posts