Denpasar,gpriority.co.id-Sehari sebelum Hari Raya Nyepi diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari Pangrupukan. Pengerupukan adalah tradisi yg dilakukan pada Rahina Tilem Kasanga atau sehari sebelum perayaan Nyepi. Pada saat itu, akan ada banyak ogoh-ogoh yg akan diarak di jalan-jalan di seluruh Bali. Berbicara soal ogoh-ogoh, boneka raksasa berwajah seram ini tentu memiliki makna tersendiri yg tak bisa dilepaskan dari kebudayaan Bali.
Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.
Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Raksasa. Selain wujud Raksasa, Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Syurga dan Naraka, seperti: naga, gajah, Widyadari. Bahkan Dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat.

Melansir akun humas Kota Denpasar biasanya ada tiga ogoh-ogoh yang sering diarak ini memilki karakter dan keunikan masing-masing, nama-nama ogoho-ogoh tersebut diantaranya :
1.Pasung Maya
Pasung Maya didasarkan pada kisah Maya Raksa yang dijuluki Prabu Sastrapisuna yang menguasai dunia maya-maya (tak nyata). Dikisahkan Maya Raksa sangat ingin melebarkan kekuasaannya di dunia nyata.
2.Gerubug
Artinya wabah yang menelan kematian mendadak dan serempak, tidak ditemukan gejala lama, langsung mewabah dan menewaskan. Kata gerubug bisa dipakai ketika ternak mati mendadak serempak, dan juga kematian manusia yang terjadi serempat dan mewabah.
3.Kepet Agung
artinya adalah kipas yang besar, filosofinya adalah memberi kesejukan.

Ogoh-ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seisi dunia.(#noz)
