Pacu Produktivitas, Pemerintah Siapkan SDM Berdaya Saing Tinggi

Jakarta, GPriority.co.id– Indonesia memiliki visi Indonesia Emas 2045 yaitu salah satunya menjadi negara maju dengan produk domestik bruto terbesar ke lima dunia, sehingga harus mengoptimalkan bonus demografi yang dimiliki melalui pembangunan sumber daya manusia dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun masih ada kendala yang dihadapi, salah satunya produktivitas tenaga kerja Indonesia yang masih tertinggal jika dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN, yang apabila dilihat dari sudut pandang sektoral bahwa lebih dari dua pertiga pekerja Indonesia bekerja sektor dengan produktivitas rendah seperti jasa perdagangan, jasa lainnya, dan pertanian.

“Maka itu, diperlukan arah strategi dalam mendorong produktivitas nasional, dengan fokus pada menggeser atau me-realokasi input produksi, termasuk SDM, ke sektor produksi strategis yang lebih produktif, dan meningkatkan output yang dihasilkan setiap unit input produksi terutama dengan meningkatkan produktivitas SDM,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Moh. Rudy Salahuddin, saat pembukaan acara Diseminasi Akhir Proyek METI Skills, dikutip Kamis (27/2).

Perlu upaya bersama untuk mendorong produktivitas nasional melalui pertumbuhan industri dan penyiapan tenaga kerja yang berdaya saing, termasuk sektor elektronik yang merupakan salah satu industri prioritas. Pertumbuhan sektor industri elektronik 2024 sebesar 6,16 persen, dengan kontribusi industri elektronika terhadap proouk domestik brutp nasional cenderung stabil dalam lima tahun terakhir.

Sebagian besar tenaga kerja sektor elektronik memerlukan keterampilan tertentu dengan latar belakang pendidikan setara SMA/SMK ke atas. Hal ini menjadikan penyediaan tenaga kerja terampil sektor ini mempunyai tantangan tersendiri karena ketersediaan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pekerja dengan keterampilan rendah (low-skill worker) atau berpendidikan SMP ke bawah yakni sekitar 54 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.

Maka itu, diadakan Proyek METI Skill yang merupakan proyek ILO Indonesia bersama Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang yang berfokus pada pengembangan keterampilan dan mendorong perilaku bisnis yang bertanggung jawab (responsible business conduct) dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja sektor elektronik. Proyek ILO METI Skill ini sejalan dengan prioritas sektor elektronik Indonesia dengan mengembangkan dan menarik investasi pada industri semikonduktor, agar Indonesia dapat terlibat aktif dalam rantai pasok global.

Deputi Rudy menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang besar kepada ILO dan Pemerintah Jepang yang telah menginisiasi METI Skills pada sektor elektronika di Indonesia yang telah berjalan sejak April 2023, dan juga kepada perwakilan tripartit yang turut terlibat aktif pada proses pelaksanaan hingga diseminasi akhir proyek tersebut.

“Penyiapan tenaga kerja terampil sesuai kebutuhan industri tersebut, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi yang berorientasi pada demand driven dengan melibatkan peran aktif Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi,” lanjut Rudy.

Dalam kurun waktu dua tahun sejak dimulainya proyek ini pada 2023, Proyek Keterampilan ILO telah melibatkan 1.150 pengusaha dan pekerja sektor elektronik, menyelenggarakan 24 lokakarya dan seminar pengembangan kapasitas dan berbagi pengetahuan seluruh negeri serta mengembangkan delapan program pelatihan yang berkolaborasi dengan pemerintah dan mitra sosial.

Proyek Keterampilan ILO juga telah menerbitkan dua Panduan bagi pengusaha tentang Pemagangan Berbasis Sekolah yang Berkualitas di Tempat Kerja dan tentang Pengembangan Mekanisme Keluh Kesah bagi Peserta Pemagangan, satu panduan pelatihan untuk lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi dan perusahaan tentang Pengembangan Keterampilan dan Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab, serta melakukan kajian keterampilan bertajuk Pengembangan Keterampilan dan Situasi Ketenagakerjaan di Sektor Elektronika Indonesia, bekerja sama dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). Publikasi ini menjadi dasar bagi para pemangku kepentingan utama sektor elektronik Indonesia untuk terus mendorong pengembangan keterampilan agar dapat menjalankan bisnis yang lebih bertanggung jawab.

“Kami mengharapkan sinergi dan kolaborasi dengan ILO seperti halnya dalam proyek METI Skill ini, dapat terus berlanjut kedepan. ILO merupakan mitra strategis Indonesia dalam meningkatkan produktivitas serta kualitas tenaga kerja, termasuk untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pekerjaan layak,” ucap Rudy.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi menggarisbawahi praktik-praktik baik yang perlu dilanjutkan bagi pengembangan kualitas pekerja Indonesia, seperti penguatan pelibatan industri dan lembaga pelatihan vokasi untuk memberikan akses pekerja dalam rangka upskilling dan reskilling dengan teknologi dan lapangan pekerjaan baru, peningkatan perlindungan bagi peserta magang dan praktik kerja lapangan untuk memperluas pemahaman terkait bisnis yang bertanggung jawab, dan pengembangan keterampilan untuk meningkatkan produktivitas kerja industri.

“Pemerintah juga berkomitmen melanjutkan inisiatif ini melalui kebijakan terkait praktik bisnis yang bertanggung jawab dalam rangka menciptakan iklim investasi yang baik, memberikan perlindungan bagi pekerja, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Edi.

Pada kesempatan ini juga dilakukan penyerahan penghargaan bagi pihak-pihak yang sudah terlibat dalam proyek ini seperti kepada perwakilan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, Infineon Technologies, Diamond Electric Indonesia, KADIN Indonesia, APINDO, Yayasan Matsushita Gobel, Federasi Serikat Pekerja Panasonic Gobel, PT Panasonic Manufacturing Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan, Kemenko PMK, dan Deputi V Kemenko Perekonomian (sebagai partner).

Foto: Dok. Kemenko Perekonomian