Pemprov DKI Gelar Job Fair Disabilitas 2025 di TIM, Sediakan 107 Peluang Kerja

Pemprov DKI gelar Job Fair Penyandang Disabilitas 2025 di TIM, Jakarta Pusat, Senin (3/11)/Foto Fifi Abdurahman Pemprov DKI gelar Job Fair Penyandang Disabilitas 2025 di TIM, Jakarta Pusat, Senin (3/11)/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) DKI menggelar Job Fair Penyandang Disabilitas 2025 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Senin (3/11).

Kegiatan ini diikuti oleh 21 perusahaan yang membuka 107 peluang kerja bagi penyandang disabilitas. Adapun sasaran kegiatan adalah 300 pencari kerja penyandang disabilitas dengan latar belakang pendidikan SMA Luar Biasa, SMA, SMK, D3, dan S1.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, pada triwulan II tahun 2025 Jakarta menyumbang 16,61 persen terhadap perekonomian nasional, dengan pertumbuhan mencapai 5,18 persen (year-on-year).

Melalui kegiatan ini, ia berharap seluruh warga Jakarta mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pekerjaan serta mampu memanfaatkan pertumbuhan ekonomi di ibu kota.

“Tentunya, saya berharap bahwa semua warga yang ada di Jakarta mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pekerjaan dan juga dapat memanfaatkan pertumbuhan yang ada di Jakarta,” kata Pramono usai membuka acara Job Fair di TIM, Senin (3/11).

Salah satu penyandang disabilitas, Daddy (51), mengapresiasi penyelenggaraan Job Fair tersebut. Menurutnya, kegiatan ini dapat membantu penyandang disabilitas untuk memperoleh pekerjaan sebagaimana masyarakat pada umumnya.

“Disabilitas itu banyak sekali, dan mereka terbentur biasanya dari aksesnya, dari pendidikannya, belum lagi mentalnya mereka. Istilahnya banyak disabilitas yang belum siap, karena kebanyakan mereka bukan hanya sakit tapi perlu ada mental yang siap untuk benar-benar terjun di dunia kerja atau di masyarakat,” tuturnya.

Daddy berharap para penyandang disabilitas yang hadir dapat diterima bekerja. Ia juga berharap kegiatan serupa bisa terus dilanjutkan.

“Karena walau bagaimanapun, orang-orang seperti kita ini tidak untuk dikasihani tapi diberi kesempatan untuk bisa beraktifitas seperti juga orang pada umumnya non disabilitas. Karena prinsip kita, cuma fisik kita yang kekurangan tapi ada hal yang bisa kita lakukan sama seperti mba-mba dan mas-mas,” pungkasnya.