Pesona Kain Tenun NTB Tampil di Panggung IFW 2026

Kain tenun NTB (Nusa Tenggara Barat) tampil sebagai salah satu daya tarik dalam BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026/Foto : Dok. Tangkapan Layar Instagram @humas_ntb Kain tenun NTB (Nusa Tenggara Barat) tampil sebagai salah satu daya tarik dalam BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026/Foto : Dok. Tangkapan Layar Instagram @humas_ntb

Jakarta, GPriority.co.id –  Keindahan kain tenun Nusa Tenggara Barat (NTB) tampil sebagai salah satu daya tarik dalam BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026. Wastra khas daerah yang selama ini dikenal melalui proses pengerjaan tradisional kini dikemas menjadi busana modern melalui rancangan desainer NTB, QV by Viviana.

Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri atau Umi Dinda bersama Asisten III Sekretariat Daerah NTB Eva Dewiyani dan Kepala Bappeda NTB Baiq Nelly Yuniarti turut memperagakan busana tenun tersebut di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (1/8).

Penampilan jajaran Pemerintah Provinsi NTB itu menjadi simbol dukungan terhadap pengembangan kain tradisional agar tidak hanya digunakan dalam kegiatan adat dan budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup serta industri fesyen masa kini.

Keunggulan utama kain tenun NTB terletak pada kekayaan motif, nilai filosofis, dan keterampilan para penenun. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian serta waktu yang tidak singkat karena banyak tahapan dikerjakan secara manual menggunakan alat tenun tradisional.

Setiap daerah di NTB memiliki ciri khas tersendiri. Tenun Renda dari Bima dikenal memiliki motif yang kaya dan detail yang mencerminkan identitas budaya masyarakat setempat. Salah satu motif yang diperkenalkan sebagai identitas budaya daerah adalah Bunga Kakando, yang dikaitkan dengan nilai keharmonisan alam, kehidupan sosial, nilai keagamaan, serta ketekunan masyarakat.

Selain itu, Muna Pa’a memiliki karakter visual yang kuat melalui susunan motif dan perpaduan warna khas. Corak tersebut menjadikan Muna Pa’a tidak hanya bernilai sebagai produk kerajinan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi busana kontemporer, aksesori, hingga produk fesyen premium.

Tenun Pringgasela dari Lombok Timur juga memiliki keistimewaan berupa keberagaman motif dan tradisi menenun yang terus dijaga masyarakat. Keahlian tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sehingga setiap kain memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi bagi para perajin.

Melalui sentuhan QV by Viviana, berbagai kain tersebut ditampilkan dengan potongan busana yang lebih modern dan elegan. Perpaduan antara unsur tradisional dan desain kontemporer menunjukkan bahwa wastra NTB dapat beradaptasi dengan tren tanpa kehilangan karakter aslinya.

Pengembangan tenun menjadi produk fesyen juga dinilai dapat memperluas pasar dan meningkatkan nilai ekonomi karya para perajin. Pemerintah Provinsi NTB terus mendorong penguatan pembinaan perajin serta perluasan jaringan pemasaran melalui berbagai pameran dan kegiatan promosi nasional.

Namun, pengembangan wastra tidak hanya berhenti pada peragaan busana. Keberlanjutan para penenun perlu menjadi perhatian karena mereka merupakan penjaga pengetahuan, teknik, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap lembar kain.

Wakil Gubernur NTB sebelumnya menekankan bahwa pelestarian wastra harus berjalan seiring dengan perlindungan dan pemberdayaan para penenun.

Panggung IFW 2026 pun menjadi ruang penting untuk memperkenalkan Tenun Renda, Muna Pa’a, dan Pringgasela kepada publik yang lebih luas. Dengan inovasi desain dan dukungan berkelanjutan, kain tenun NTB berpeluang berkembang menjadi produk fesyen berkelas yang mampu menembus pasar nasional hingga dunia.