Praktisi: Konflik AS-Iran Jadi Mimpi Buruk Jutaan Pekerja Migran Asia Tenggara

Praktisi dan akademisi di bidang kebijakan publik Indonesia, Dinna Prapto Raharja (kanan) dalam agenda diskusi publik yang berlangsung di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (13/4)/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Praktisi dan akademisi di bidang kebijakan publik Indonesia, Dinna Prapto Raharja (kanan) dalam agenda diskusi publik yang berlangsung di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (13/4)/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Di tengah konflik AS-Iran yang terus bergulir, praktisi dan akademisi di bidang kebijakan publik Indonesia, Dinna Prapto Raharja, menyoroti nasib jutaan pekerja migran di Asia Tenggara.

Disampaikannya dalam agenda diskusi publik yang berlangsung pada Senin (13/4) di Pancoran, Jakarta Selatan, Dinna menyebut, para pekerja migran yang bekerja di wilayah konflik tersebut berada di situasi yang mematikan, hingga berisiko menjadi korban.

“Pekerja yang statusnya tanpa dokumen tentu akan lebih rentan. Pekerja di Lebanon itu sekarang ditinggal majikannya tanpa makanan. Kemudian remitansi tentu saja menjadi korban juga di kita,” ungkapnya.

Berbicara terkait proyeksi masa depan tenaga kerja migran, Dinna berpendapat, satu hal yang harus diantisipasi adalah kepercayaan terhadap Timur Tengah goyah sebagai safe heaven untuk berinvestasi.

Padahal, image tersebut telah dikembangkan oleh negara-negara Teluk selama 10 tahun terakhir.

“Tetapi kenyataannya wilayah mereka tidak stabil. Menurut saya ke depannya mungkin sampai 5-10 tahun ke depan risikonya akan sangat tinggi konflik di sana,” ujar Dinna.

Dinna mencontohkan seperti negara Arab Saudi misalnya yang akan sangat cepat mengembangkan program AI dan otomatisasi.

Sehingga, khawatirnya sektor pekerjaan yang tersedia untuk pekerja migran Asia Tenggara kemungkinan besar masih tetap di sektor jasa yang nilainya rendah.

“Kalau sektor-sektor yang tinggi ini entah mengapa kita di Indonesia pun atau rata-rata di Asia Tenggara investasinya belum ke sana. Sehingga, negara yang paling cepat mengambil keuntungan dari perubahan ekonomi di Timur Tengah ya Singapura. Yang lain belum,” jelas Dinna.

Dinna menyebut, saat ini tuntutan yang harus segera dikejar oleh para pekerja migran khususnya di Indonesia, ialah terkait upskilling atau menambah keahlian.

“Rata-rata misalnya kalau saya bicara konteks orang Indonesia, rata-rata orang Indonesia itu lulusan SMP kelas 2. Kalau dilihat data statistiknya rendah banget,” sebutnya.

Dinna melanjutkan, “Jadi kalau kita bicara soal AI, teknologi, masih ada beberapa step yang harus dilalui sampai mereka bisa punya literasi digital, bisa berbahasa asing, memahami, dan punya keterampilan teknis atau manual untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan berkembangnya supply chain yang baru, bisnis yang baru. Belum lagi tambah adaptasi budaya,” pungkas Dinna.