Resmi Dilantik, Donald Trump Tegaskan Gender di AS Cuma Laki-Laki dan Perempuan

Resmi Dilantik, Donald Trump Tegaskan Gender di AS Cuma Laki-Laki dan Perempuan Resmi Dilantik, Donald Trump Tegaskan Gender di AS Cuma Laki-Laki dan Perempuan

Jakarta, GPriority.co.id – Donald Trump resmi dilantik sebagai presiden Amerika Serikat (AS) ke-47, pada Senin (20/1) lalu.

Setelah dilantik, Donald Trump membahas isu ras dan gender dengan menyatakan bahwa AS hanya akan mengakui dua jenis kelamin yang tetap dan tidak dapat diubah, yaitu laki-laki dan perempuan.

Tak lama setelah menjabat, Trump mengambil tindakan cepat untuk memenuhi janji kampanyenya dengan membalikkan kebijakan dari pemerintahan Biden yang berfokus pada promosi keberagaman dalam pemerintahan federal.

Trump juga berjanji untuk menciptakan masyarakat yang tidak mendiskriminasi berdasarkan warna kulit atau gender.

Perintah tersebut mengharuskan pemerintah untuk menggunakan istilah “jenis kelamin” daripada “gender”.

Trump juga menekankan bahwa dokumen identifikasi yang dikeluarkan oleh pemerintah, termasuk paspor dan visa, harus didasarkan pada apa yang digambarkannya sebagai “klasifikasi biologis yang tidak dapat diubah dari seorang individu sebagai laki-laki atau perempuan,” seperti dilansir dari Reuters.

“Mulai hari ini, kebijakan resmi pemerintah Amerika Serikat adalah hanya ada dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan,” kata Trump dalam pidato pelantikannya, seperti dikutip dari BBC.

Beri Kritik Pedas Untuk Atlet Transgender

Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa dirinya mengkritik kebijakan yang mengizinkan atlet transgender untuk bertanding.

Baik atlet di usia sekolah, atlet perguruan tinggi, dan profesional, Trump tegas mengatakan bahwa atlet harus bertanding sesuai identitas gender mereka, dengan alasan hal ini dapat merugikan atlet wanita.

Trump dan rekan-rekannya dari Partai Republik juga menyerukan pelarangan jenis perawatan medis tertentu untuk transgender di bawah umur.

Namun tindakan Trump tersebut menurut para pakar kesehatan AS dan global dapat membahayakan kesehatan fisik dan mental mereka.

“Norma gender yang kaku juga berdampak negatif pada orang-orang dengan identitas gender yang beragam, yang sering kali menghadapi kekerasan, stigma, dan diskriminasi sebagai akibatnya, termasuk dalam lingkungan perawatan kesehatan,” begitu bunyi pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Foto : AFP News