Rumah Cantik untuk ‘Wong Cilik’


Jakarta,gpriority-Rumah kini menjadi tempat beraktivitas selama masa pandemi Covid-19.

Selain menjadi tempat tinggal, rumah juga menjadi tempat bekerja secara daring.

Mengingat pentingnya peran rumah dalam kehidupan, alangkah baiknya kita berkreasi memberikan sentuhan estetik pada rumah tersayang.

Hal inilah yang dibahas kurator Asikin Hasan dan arsitektye Yuke Ardhiati dalam bicara rupa yang digelar pada Jum’at (29/5/2020).

Yuke Ardhiati, arsitek profesional IAI, dan juga pengajar mengungkap, “Rumah Cantik yang mendapatkan sentuhan Arsitek umumnya belum diperuntukkan bagi Rumah ‘Wong Cilik’. Padahal, arsitektur harusnya bisa menyentuh semua lapisan masyarakat. Nah, sekaranglah saat yang tepat untuk memikirkan kembali rumah kita ataupun bagaimana Rumah Cantik untuk ‘Wong Cilik’’ terwujud di negeri tercinta.”

Rumah Cantik untuk “Wong Cilik” digagas oleh Yuke Ardhiati untuk mereformasi rancangan Perumahan MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah). “Konsep utamanya adalah rumah yang bermarwah, yaitu sebagai hunian sekaligus berkarya/bekerja/berproduksi,” kata Yuke. Dalam rancangannya, disiapkan 1.000 unit kavling yang berselaras dengan Making Indonesia 4.0.

Dalam rancangannya dimasukkan konsep lanskap holtikultura tematik atau tanaman produksi pada rumah ukuran tipe 21, yaitu tipe terkecil perumahan yang disetujui oleh MK (Mahkamah Konstitusi) tahun 2012. Tipe sekecil itu diolah menjadi berlapis dua agar tampil anggun/elegan. Parasnya juga dapat diolah menjadi paras berseni rupa dengan bermain warna dan rupa. Olah ruang dalam tipe rumah ini memungkinkan perluasan peran sang rumah menjadi bernilai ekonomi. Dan, bila diterapkan secara apik serta terhubung dengan internet akan mendukung kebijakan Making Indonesia 4.0.

Kolaborasi yang ditawarkan Yuke Ardhiati adalah kolaborasi arsitek dan kolaborasi seni yang memungkinkan terwujudnya 1.000 unit rumah cantik di 34 provinsi. Dengan cara itu, dapat ditemukan pebakat seni rupa, musik, dan seni lainnya sebagai sebuah komunitas kreatif. Bukan tidak mungkin terjadinya festival (seni) periodik, juga sejumlah rumah galeri mini.

Peran kurator menjadi amat sibuk nantinya, karena mendapat kesempatan mengangkat nama seniman baru yang terlahir di sana. Pada akhirnya, terbukalah profesi baru seperti manajemen ekonomi kreatif, arranger, agen pencari bakat, perancang media virtual, dan sebagainya. Akan tetapi, untuk mewujudkan ini perlu langkah besar bersama-sama, antara arsitek, seniman, pengembang rumah MBR dengan pemangku kuasa setidaknya Menteri PUPR, Menteri Keuangan, Menperindag, Mendikbud, dan Menparekraf “hadir” merumuskan reformasi PP perumahan MBR.

Yuke Ardhiati, juga mengajak arsitek/non-arsitek melakukan virtual workshop untuk menghimpun ide-ide inovatif dalam memperluas peran dari Rumah Cantik untuk “Wong Cilik” type 21 (sekitar 4,25 m x 4, 25 m, tipe dua lantai).

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto mengatakan, acara Bicara Rupa Rumah Cantik untuk “Wong Cilik” ini diharapkan menjadi media berbagi pengetahuan dan pengalaman, sekaligus memberikan inspirasi bagi publik, baik arsitek, pengembang, dan juga perorangan untuk menciptakan kenyamanan di rumah.

“Kenyamanan ini bukan sekadar persoalan estetis namun juga sebagai bukti kontribusi bidang seni rupa dan arsitektur dalam menyentuh kehidupan manusia. Dengan digelarnya acara ini, diharapkan akan muncul atau bahkan menggerakkan berbagai pihak untuk mewujudkan taraf hidup masyarakat menjadi lebih baik,” tutup Pustanto.(Hs.Foto.Dok.Galnas)

Related posts