Amerika Serikat, GPriority.co.id – Sekretaris pers (Setpres) Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa serangan militer AS belum lama ini terhadap Iran memiliki 4 tujuan utama.
Berbicara kepada wartwan di Gedung Putih, Rabu (4/3), Leavitt menguraikan tujuan pemerintah antara lain melenyapkan kemampuan rudal balistik Iran, melumpuhkan kekuatan angkatan laut Iran di kawasan Timur Tengah, membubarkan kelompok proksi militan yang terkait dengan Teheran, dan memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir.
Pernyataan tersebut muncul ketika pemerintah menghadapi pertanyaan dari mitra internasional dan anggota parlemen tentang tujuan yang lebih luas dari operasi tersebut setelah serangan AS dimulai pada Sabtu (28/2) pagi. Leavitt membela misi tersebut, mengatakan bahwa kampanye yang disebut sebagai “Operasi Epic Fury” itu telah memberikan hasil yang kuat, sejauh ini.
“Bisa dibilang ‘Operasi Epic Fury’ telah sangat sukses hingga saat ini,” katanya selama pengarahan tersebut, sebagaimana dikutip dari laporan AFP.
Leavitt juga membahas spekulasi tentang siapa yang mungkin menggantikan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang terbunuh tanpa pengganti resmi yang dikonfirmasi. Dia mengatakan badan intelijen AS sedang meninjau laporan yang menunjukkan bahwa putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei, berpotensi mengambil alih posisi tersebut.
“Kami juga telah melihat laporan-laporan itu, dan komunitas intelijen kami memantau situasi ini dengan cermat. Pada akhirnya, kita harus menunggu dan melihat bagaimana perkembangannya,” katanya kepada wartawan.
Sejak berdirinya Republik Islam hampir 50 tahun yang lalu, Iran hanya sekali mengganti pemimpin tertingginya. Khamenei mengambil alih peran tersebut pada tahun 1989 setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini. Selama pengarahan tersebut, Leavitt juga menuduh Teheran menolak opsi diplomatik.
Menurutnya, kepemimpinan Iran memilih untuk tidak mengejar perdamaian dan malah memprioritaskan pengembangan kemampuan senjata nuklir yang dapat mengancam Amerika Serikat dan sekutunya.
“Iran berpaling dari kesempatan untuk perdamaian karena para pemimpin rezim tersebut fokus pada pengembangan senjata nuklir yang dapat digunakan melawan Amerika dan mitra kami,” kata Leavitt.
Para pejabat Iran telah lama menolak tuduhan bahwa negara itu sedang membangun senjata nuklir. Di masa lalu, Khamenei berulang kali membantah mengejar bom dan berpendapat bahwa senjata pemusnah massal dilarang menurut ajaran Islam.
