Strategi Hadapi Perang Dagang

Jakarta,Gpriority-Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok berdampak kepada negara di dunia termasuk di Indonesia.

Fakta diataslah yang membuat INDEF menyelenggarakan acara seminar dan hasil kajian tahunan dalam proyeksi ekonomi Indonesia pada tahun 2019 yang bertajuk “Adu strategi hadapi perang dagang” di Bidakara Hotel,Jakarta pada Rabu (28/11).

Dijelaskan oleh Enny Sri Hartanti,Direktur Eksekutif Indef, dilihat dari perang dagang ini, ada beberapa sektor yang langsung berdampak negatif seperti tekstil. ” Hal inilah yang harus dimanfaatkan oleh pengusaha tekstil kita dengan melakukan ekspor,” tutur Enny.

Adhi S Lukman, Ketua GAPMMI mengatakan, Yang harus diwaspadai dari perang dagang Cina dan AS adalah luberan produk Cina apabila dihambat terus oleh AS.Oleh sebab itu yang harus dilakukan untuk menangkalnya adalah memperkuat produksi dalam negeri. Dan ini sedang dilakukan pemerintah. Kita juga harus perkuat pertahanan domestik dengan berbagai acara. Ekspansi pasar ekspor. Pemerintah harus berdiri di depan untuk melakukan negosiasi dengan negara lainnya. Ini harus dilakukan segera karena banyak perusahaan yang berpotensi ekspor tetapi tarifnya tinggi. Kalau bisa diatasi otomatis banyak perusahaan yang melakukan ekspor.dengan demikian maka bisa memberikan tambahan devisa.
Ahmad Heri Firdaus yang mewakili peneliti INDEF mengatakan, dampak perang dagang antara AS dan Cina yang berlanjut hingga saat ini membuat banyak negara berharap pertemuan antara presiden As dan Cina akan membuahkan hasil. Tetapi INDEF melihat belum ada titik temu. ” Jadi hingga tahun depan perang dagang antara dua negara tersebut akan terus berlanjut,”kata Ahmad.
Terkait dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia INDEF memprediksi akan tumbuh hingga 5 persen. Karena ada dampak positif dari perang dagang yang bisa membantu perekonomian Indonesia. Salah satunya dari sisi ekspor Indonesia yang semakin naik tetapi agak kecil.(Hs.foto:Hs)

Related posts

Leave a Comment