Jakarta,GPriority.co.id-Dalam rangka memperkenalkan Wisata, Budaya dan produk UMKM khas daerah, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggelar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2023 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Acara yang digelar Sabtu (28/1/2023) diikuti 110 event unggulan dari berbagai daerah. “Dari 300 event yang diusulkan dinas pariwisata daerah, Kemenparekraf langsung melakukan kurasi. Hasilnya ada 110 event yang terpilih termasuk Festival Adat Lom Plai yang berasal dari Kutai Timur (Kutim),” jelas Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno dalam siaran persnya di hari yang sama.
Lebih lanjut dikatakan Mas Menteri begitu Sandiaga Salahuddin Uno disapa, Festival Adat Lom Plai dipilih dikarenakan memiliki keunikan dan mampu menarik wisatawan. “Buktinya saat Lom Plai tampil banyak pengunjung TMII yang menyaksikannya. Ini menjadi bukti bahwa Lom Plai bisa menjadi event unggulan di Kutim,” tutur Mas Menteri.
Kepala Dinas Pariwisata Kutim Dr H Nurullah, M.Pd, yang ditemui usai acara mengatakan, dipilihnya Lom Plai mewakili Kutim dikarenakan festival ini sangat menarik dan sudah diselenggarakan selama ratusan tahun.
Lebih lanjut dikatakan Nurullah, Lom Plai menceritakan mengenai krisis pangan yang terjadi pada zaman dahulu akibat kemarau panjang. Kemudian tokoh utama dalam festival adat Lom Plai Ratu Warga Dayak, Diang Yungi bermimpi untuk menyembelih anaknya bernama Long Diang Yung. Kemudian ia menceritakan mimpi ini kepada anaknya. Long Diang Yung pun setuju. Kemudian Diang Yungi menyembelih anaknya hingga darahnya mengalir. Ajaibnya dari aliran darah tumbuhlah padi dan mengakhiri krisis pangan di Dayak Wehea. ” Untuk mengenang jasa Putri Long Diang Yung yang kini dipercaya sebagai Dewi Padi, dalam setiap tahunnya setelah panen, warga Dayak Wehea merayakan kehadiran Long Diang Yung dengan menggelar pesta adat Lom Plai. Warga Dayak Wehea percaya, jika pengorbanan Long Diang Yung membawa kemakmuran dan kesejahteraan hidup untuk manusia. Pesta adat tersebut terus dipertahankan dan dilestarikan sebagai simbol rasa syukur kepada Putri Long Diang Yung,” ucap Nurullah.
Pesta adat tersebut digelar satu bulan, dimulai Maret hingga April 2017. Acara puncaknya, 8 dan 9 April. Ritual yang dilakukan berurutan, seperti yang diajarkan para leluhur terdahulu. “Ini upacara tahunan dan tahun-tahun selanjutnya akan terus dilakukan sampai anak cucu,” ujarnya.
Pada puncak acara, warga Dayak Wehea memulai ritual dini hari, pukul 04.00 Wita. Para ibu rumah tangga memasak lemang dan beangbit (dodol dayak). Dua makanan khas ini harus ada di setiap rumah, sesuai tradisi turun-temurun. Di pagi hari, warga juga harus memasak sayur.
Sayur yang dimaksud adalah ayam, karena darah ayam kampung dipakai untuk melhaq (dioleskan) di dahi pembuat lemang. Ritual melhaq ini dengan tujuan untuk menyembuhkan warga yang mungkin dalam setahun masa tanam padi hingga selesai panen, karena melanggar aturan adat padi. “Selain ayam, boleh juga memasak lainnya, sesuai keperluan dan keinginan saja,” sebutnya.
Setelah memasak lemang dan melhaq, warga diwajibkan makan bersama di rumah masing-masing. Boleh mengundang tetangga dan kerabat. Untuk para pejabat tinggi, wajib makan dan mengunjungi rumah kepala adat. Setelah itu, semua warga harus turun dari rumah dan menuju pondok-pondok di tepi sungai (tiaq diaq jengea ). Di pondok itu, warga menyaksikan tarian di atas rakit oleh gadis-gadis Dayak Wehea, dan aksi perang-perangan di atas perahu.
Nurullah dalam kesempatan tersebut juga mengatakan, saat ini Kutim tengah gencar mempromosikan wisatanya. Adapun wisata yang dipromosikan budaya, bahari, dan alam, “Kebetulan kita sudah menetapkan tempat untuk dijadikan destinasi wisata seperti Teluk Lombok dan Teluk Prancis. Ini daerah pantai yang dijadikan andalan. Yang kedua adalah Gua Telapak Tangan Karst Sangkurilang dan Karts lainnya. Ketiga Pantai Marang dan beberapa pantai lainnya, Pulau Miang serta banyak wisata lainnya,” kata Nurullah.

Nurullah juga mengatakan untuk menarik wisatawan ke destinasi tersebut Dinas Pariwisata juga tengah mempersiapkan 7 Sapta Pesona sesuai intruksi Kemenparekraf yakni Keamanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramahan, dan Kenangan. “Dengan demikian orang akan kembali lagi sekaligus membawa temannya ke destinasi wisata yang ada di Kutim,” jelas Nurullah menutup perbincangan. (Hs.Foto:SR)

