Tok! Pemerintah Resmi Larang Anak di Bawah 16 Tahun Gunakan Media Sosial

Pemerintah resmi larang anak dibawah 16 tahun pakai media sosial/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) resmi melarang anak di bawah usia 16 tahun menggunakan sejumlah media sosial berisiko tinggi dengan menonaktifkan akun mereka.

Platform yang dimaksud antara lain YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox.

Kebijakan ini ditetapkan melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 mengenai Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak.

“Implementasi dimulai pada 28 Maret 2026. Akun anak di bawah usia 16 tahun pada platform berisiko tinggi mulai dinonaktifkan, dimulai dari YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox,” kata Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, dikutip dari akun Instagramnya, Sabtu (7/3).

Meutya menjelaskan, proses penonaktifan akun media sosial akan dilakukan secara bertahap hingga seluruh platform menjalankan kewajiban kepatuhannya.

“Proses ini akan dilakukan secara bertahap sampai semua platform menjalankan  kewajiban kepatuhannya,” ucapny.

Ia menambahkan, dengan penerapan aturan tersebut, Indonesia menjadi negara non-Barat pertama yang menerapkan kebijakan penundaan akses anak ke ruang digital sesuai usia.

Menurutnya, kebijakan ini diambil karena anak-anak menghadapi berbagai ancaman di ruang digital, mulai dari paparan pornografi, perundungan siber, penipuan daring, hingga risiko kecanduan.

“Pemerintah hadir agar orang tua tidak lagi bertarung sendirian melawan raksasa algoritma,” tegasnya.

Meutya mengakui, penerapan aturan ini mungkin menimbulkan ketidaknyamanan di awal, baik bagi anak-anak maupun orang tua. Namun, pemerintah menilai kebijakan tersebut sebagai langkah penting di tengah kondisi darurat digital.

“Langkah ini kita ambil untuk merebut kembali kedaulatan masa depan anak-anak kita. Kita ingin teknologi itu memanusiakan manusia, bukan menumbalkan masa kecil anak-anak kita,” pungkas politisi Golkar itu.