Jakarta, GPriority.co.id – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, menyatakan bahwa perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling merasakan dampak negatif saat terjadi bencana.
Hal itu disampaikan Veronica dalam Dialog Nasional dan Lokakarya bertajuk Pemberdayaan Masyarakat, Peningkatan Kemandirian, dan Resiliensi Nasional dalam Memperkuat Kepemimpinan Perempuan yang Strategis dan Inklusif, Rabu (8/4).
“Adapun dampak negatif yang terjadi ketika bencana terjadi, perubahan iklim, atau apapun, selalu perempuan atau anak mereka atau inklusif yakni kaum rentan, mereka yang paling terdampak,” kata Veronika dilihat dari siaran langsung YouTube Bappenas RI.
Menurutnya, setiap terjadi bencana, pemerintah melalui BNPB, Satgas, Kemendagri, dan pihak terkait lainnya selalu berupaya cepat menyalurkan bantuan. Namun, dalam praktiknya, bantuan tersebut belum selalu diberikan secara menyeluruh.
“Tidak semua kepala desa tapi kebetulan yang kita datangi itu kita menemukan kepala desa – kepala desa yang memang perspektifnya itu belum kepada inklusifnya. Nah ini yang menjadi problem ketika kita mau melakukan penanganan secara struktur dari top down, kita harus meminimalisasi top down tapi kita harus menggali dari bawa. Karena sumber data, sumber eviden itu semua ada di bawa. Dan kita mau mengchapcer sumber itu, kita menemukan kepala desa yang mungkin gak ready untuk mengchapcer itu sebagai problem solvingnya kita gitu,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, saat meninjau lokasi bencana, pihaknya melihat banyak pengungsi tinggal di tenda, yang kembali berdampak besar pada perempuan dan anak.
Dalam kondisi tersebut, muncul solusi dari masyarakat, yakni dapur komunitas yang diinisiasi oleh para perempuan. Mereka juga menanam microgreens dari biji kacang-kacangan menggunakan media sederhana seperti air dan kapas sebagai sumber protein.
Veronica menuturkan, para perempuan tersebut datang sambil menangis dan meminta bantuan bahan pokok seperti beras. Bantuan pun diberikan berupa beras, telur, dan minyak untuk membantu kebutuhan mereka.
“Nah, mereka bisa survive, mereka bisa memasak sembako sambil nangis, sambil minta tolong, sambil ini. Tapi disitu saya melihat, ketika penguatan komunitas dari ibu-ibu yang ada, dan mereka berkumpul bersama, itu lah sebenarnya ruang aman buat mereka. Itu lah sebenarnya sumber kekuatan bagi mereka dikala mereka sudah hampir tidak ada apa-apanya,” tuturnya.
Ia menilai, kebersamaan tersebut menjadi sumber kekuatan psikologis komunal yang membantu mereka bertahan, bahkan ketika berada dalam keterbatasan.
