Zahra Muzdalifah, Mengenal si Kulit Bundar dari Sang Ayah

Bagi Anda yang mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia pasti mengenal sosok wanita yang satu ini. Ya, Zahra Muzdalifah merupakan pemain Timnas Indonesia Putri yang juga merupakan punggawa Persija di Liga 1 Putri di tahun 2019.

Piawai mengolah bola, cantik dan menawan. Itulah gambaran yang melekat di hati kaum Adam (pria) saat menyaksikan penampilan pemain Timnas Putri Indonesia Zahra Muzdalifah di layar kaca. Berkat Zahra Muzdalifah pula, sepakbola putri di Indonesia semakin diminati oleh pecinta sepakbola.

Pastinya Anda penasaran bukan kenapa gadis secantik Zahra Muzdalifah mau menggeluti dunia si kulit bundar (sepakbola)? Inilah jawaban yang diberikan oleh Zahra Musdalifah kepada jurnalis olahraga yang meliputnya.

“ Aku ingin menjadi atlet profesional, atlet yang bisa membawa nama harum Indonesia di kancah internasional. Terkait kenapa sepakbola yang dipilih bukan cabang olahraga lainnya. Itu dikarenakan ayahku. Di usia 7 tahun, beliau memperkenalkan sepakbola kepadaku,” tegas Zahra.

Zahra sendiri mengakui bahwa kedua orang tuanya sempat mengalihkannya ke cabang bulutangkis. Namun karena tidak hobi, Zahra pun tidak mau melanjutkannya dan tetap meneruskan hobinya bermain bola.

Di usia 10 tahun, Zahra Muzdalifah yang sudah bisa menguasai dasar-dasar dari permainan sepak bola memutuskan untuk bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Madani Meruya. Kemudian ia bergabung dengan SSB Patriot Merah Putih dan selanjutnya Zahra bergabung dengan ASIOP Football Academy pada tahun 2012. Bersama ASIOP Football Academy, Zahra yang saat itu berusia 12 tahun diberi kepercayaan untuk tampil penuh di kompetisi sepak bola wanita yang berlangsung di Norwegia pada waktu itu. “ Alhamdulillah tim kami juara,” tegas Zahra.

Kepada awak media Zahra juga mengatakan bahwa di ASIOP, dirinya juga pernah tampil bersama dengan tim pria. “ Bersama Pemain Timnas U-19 Rendy Juliansyah dan kawan-kawan, saya bahu membahu membawa ASIOP menjadi jawara Liga Kompas Gramedia Panasonic U-14.Alhamdulillah tim kami menjadi juara,” kata Zahra.

Prestasi di ASIOP membuat Zahra yang juga pernah bergabung dengan tim futsal Ngapak FC diajak oleh salah satu tim sepakbola putri di Swedia Rosengard untuk melakukan trial. Sayangnya dia kalah bersaing dengan pemain lainnya. Zahra tidak putus asa dan memutuskan kembali ke Indonesia dan memilih klub Jakarta 69 sebagai tempat labuhannya.

Bersama Jakarta 69, Zahra yang berposisi sebagai gelandang selalu menampilkan performa yang menawan. Hal inilah yang membuat Persija Jakarta yang tengah mencari pemain untuk Liga 1 Putri tertarik untuk merekrutnya. Oleh pelatih Persija John Arwandi, Zahra ditempatkan sebagai striker. Performa apik yang diperlihatkan Zahra bersama Persija, membuat dirinya dipanggil PSSI untuk membela Timnas untuk ajang Asian Games 2018.

Bersama Timnas Indonesia, Zahra yang ditunjuk sebagai kapten tim oleh pelatih Satya Bagja tampil menggila, terbukti dirinya mampu melesakkan 2 gol ke gawang Timnas Maladewa. Namun sayangnya performa apik Zahra tidak mampu mengantarkan Timnas Indonesia lolos ke babak 16 besar, dikarenakan kalah dalam selisih gol dengan Hongkong, yang menempati peringkat 3 terbaik.(Hs)

Related posts