9 Negara yang Lawan Kebijakan Tarif Donald Trump

9 Negara yang Lawan Kebijakan Tarif Donald Trump 9 Negara yang Lawan Kebijakan Tarif Donald Trump

Jakarta, GPriority.co.id – Usai Presiden AS Donald Trump menerapkan kebijakan tarif pada Rabu (2/4) lalu, terungkap jika Trump memiliki gagasan apabila negara lain mengenakan pajak tinggi ke barang AS, maka ia akan membalasnya dengan pajak yang juga tinggi ke barang-barang impor mereka.

Kebijakan tarif Donald Trump ini didasarkan pada AS yang disebut kehilangan banyak uang karena defisit perdagangan hingga USD 900 miliar pada 2024 lalu. Setelah resmi diumumkan, banyak negara menentang keputusan Trump, dan menyebut jika penetapan tarif tersebut terlalu berlebihan, bahkan dapat melanggar aturan perdagangan internasional.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini 9 negara yang melawan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.

1. China

Sebagai balasan, China menerapkan tarif balasan sebesar 34 persen terhadap semua produk asal Amerika Serikat. Selain itu, China juga menambahkan beberapa perusahaan AS ke daftar entitas yang tidak dapat dipercaya. China turut memberlakukan kontrol ekspor pada sejumlah mineral tanah jarang seperti gandolinium dan samarium.

2. Uni Eropa

Uni Eropa menerapkan tarif 25 persen terhadap beberapa komoditas AS seperti baja, aluminium, daging, sereal, anggur, serta produk lainnya seperti telur, sosis, dan unggas. Uni Eropa juga turut mengetatkan perlindungan impor baja (mengurangi kuota 15 persen). Sebagai informasi, tarif balasan seperti berlian, telur, benang gigi, sosis, dan unggas, akan mulai berlaku pada 16 Mei. Sedangkan almond dan kedelai akan berlaku pada 1 Desember mendatang.

3. Kanada

Kanada menerapkan tarif balasan 25 persen terhadap produk AS seperti baja, aluminium dan beberapa barang lain sebesar USD 155 miliar (Rp 2,6 kuadriliun). Sebagai informasi, China-Meksiko-Kanada merupakan mitra dagang terbesar AS, yang menyumbang hingga 41,7 persen dari seluruh impor.

4. Jepang

Walaupun tidak menerapkan tarif balasan dari kebijakan Donald Trump, namun pemerintah Jepang menilai jika tarif yang dikenakan AS kepada produk otomotif dan suku cadang dianggap sebagai krisis nasional, serta melanggar perjanjian perdagangan internasional. Jepang pun meminta AS untuk membatalkan kebijakan tarif tersebut. Pemerintah Jepang siap membuka ruang dialog serta menyiapkan strategi balasan yang bersifat non-tarif.

5. Singapura

Singapura mencoba merespon kebijakan tarif Donald Trump melalui pendekatan diplomasi. Singapura ingin menjaga posisinya sebagai pusat perdagangan global untuk menarik investasi dan menjaga daya saing produk ekspor mereka. Singapura pun meminta pengecualian dari tarif yang dikenakan Trump.

6. Malaysia

Sama seperti Singapura, Malaysia juga mengambil pendekatan diplomasi tanpa mengirim tarif balasan. Tetapi dengan melakukan diversifikasi pasar (memperluas ekspor negara dan mengurangi ketergantungan ke AS).

7. Vietnam

Vietnam mencoba mengirim delegasi tingkat tinggi dengan pejabat AS untuk mengurangi tarif pada barang tertentu atau sektor elektronik, tekstil, alas kaki, serta pertanian. Selain itu pemerintah Vietnam juga memperluas hubungan dagangnya ke Timur Tengah dan Amerika Latin, dalam mengurangi ketergantungan pada AS.

8. Kamboja

Kamboja mencoba melakukan pendekatan diplomasi dan negosiasi dari pengumuman tarif 49 persen AS. Pemerintah Kamboja mengirim surat resmi untuk menunda penerapan tarif ini dengan mengusulkan negosiasi dan pengurangan tarif ke 19 kategori produk AS salah satunya alkohol dari 35 persen menjadi 5 persen.

9. Indonesia

Presiden Prabowo mengirim Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, serta Menteri Luar Negeri Sugiono ke AS, untuk melakukan negosiasi tarif sebesar 32 persen yang ditetapkan Trump.

Editor: Novita Intan

Foto : Getty Images