Jakarta, GPriority.co.id – Memiliki penyakit seperti diabetes kerap menimbulkan kebingungan saat Ramadan. Di satu sisi, penderita ingin tetap menjalankan ibadah puasa. Di sisi lain, mereka harus rutin menjalani terapi pengobatan, termasuk minum obat secara teratur demi menjaga kondisi kesehatannya.
Lantas, bagaimana pasien diabetes menyiasati hal ini? Apakah dosis obat bisa dikurangi agar tetap bisa berpuasa?
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Goenawan Partowidigdo Cisarua, Bogor, dr. Helmi Fakhruddin, menekankan pentingnya penderita diabetes melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check-up) sebelum Ramadan. Pemeriksaan ini bertujuan agar dokter dapat menilai kondisi pasien sekaligus menyiapkan strategi terapi selama menjalani puasa.
Ia menganjurkan agar pemeriksaan dilakukan paling lambat satu hingga empat minggu sebelum Ramadan.
Menurutnya, terapi yang dijalani pasien diabetes sangat beragam, mulai dari obat minum, suntik, hingga insulin. Beberapa jenis obat memiliki risiko efek samping yang lebih tinggi bila dikonsumsi tanpa penyesuaian selama Ramadan. Karena itu, evaluasi medis sangat diperlukan.
Pada dasarnya, lanjut dia, pasien diabetes tetap bisa berpuasa dengan penyesuaian dosis dan waktu minum obat, sesuai rekomendasi dokter.
“Nah, kita juga harus melihat nih pasien sebelumnya pakai obat apa. Misal pasien ada obat yang diminum 3 kali sehari. Nah, kan nggak mungkin Ramadan siang-siang kita minum obat,” ujar dr. Helmi dalam diskusi bertajuk Puasa Aman untuk Diabetes: Yuk Siapin dari Sekarang! yang disiarkan langsung melalui Instagram Kementerian Kesehatan RI, Rabu (11/2).
“Kalau misal pasien memungkinkan untuk berpuasa, mungkin kita ubah dari 3 kali sehari ke 2 kali sehari saat pas berbuka. Atau misal obat-obat yang diminum 1 kali sehari, itu kan beberapa obat yang diminum sekali sehari, risiko hipoglikemianya biasanya lebih tinggi. Nah, makanya kita ubah minumnya. Misal tadinya saat pagi hari, kita ubah ke saat berbuka puasa,” tambahnya.
dr. Helmi mengingatkan, konsumsi obat saat sahur tanpa penyesuaian dosis dapat meningkatkan risiko gula darah turun (hipoglikemia) selama berpuasa.
Penyesuaian juga berlaku untuk terapi suntik atau insulin. Frekuensi suntikan yang semula dua hingga empat kali sehari perlu dievaluasi ulang oleh dokter.
Menurutnya, perubahan dosis, jenis obat, maupun cara pemberian terapi tidak bisa disamaratakan pada setiap pasien. Hal ini harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu, termasuk karakteristik gula darah, hormon, serta adanya komplikasi.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya konsultasi dengan dokter sebelum Ramadan agar puasa tetap aman dan terapi diabetes tetap terkontrol.
“Jadi memang baiknya sebelum Ramadan, pasien-pasien sobat sehat ini harus ketemu dokternya masing-masing karena tujuannya adalah agar puasa lancar, menilai stratifikasi risiko, apakah bisa berpuasa atau tidak, dan memodifikasi nanti cara minum obatnya agar efek sampingnya tidak muncul,” pungkasnya.
