Amankah Penderita Diabetes Berpuasa saat Ramadan? Ini Penjelasan Dokter

Ilustrasi penderita diabetes/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Tidak lama lagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan memasuki bulan Ramadan 2026. Selama Ramadan, umat Muslim diwajibkan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Kewajiban ini membuat banyak orang tetap ingin berpuasa, termasuk mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes.

Namun, dari sisi medis, apakah penderita diabetes aman menjalankan puasa saat ramadan?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Goenawan Partowidigdo Cisarua, Bogor, dr. Helmi Fakhruddin, mengatakan tidak semua pasien diabetes aman berpuasa. Diperlukan penilaian risiko terlebih dahulu sebelum memutuskan boleh atau tidaknya menjalankan puasa.

“Jadi sebetulnya nggak semua pasien aman, jadi memang ada penilaian risiko tersendiri. Dari International Diabetes Federation pun sudah memberikan beberapa stratifikasi risiko dan scoring untuk pasien-pasien yang bisa mengikuti puasa di bulan Ramadan,” ujar dr. Helmi dalam diskusi bertajuk Puasa Aman untuk Diabetes: Yuk Siapin dari Sekarang! yang disiarkan langsung melalui Instagram Kementerian Kesehatan RI, Rabu (11/2).

Menurutnya, pasien diabetes dibagi dalam tiga kategori risiko, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Dari hasil penilaian tersebut, dokter akan memberikan rekomendasi apakah pasien diperbolehkan berpuasa atau tidak.

“Misalnya dia risikonya rendah, masih diperbolehkan puasa. Bila risiko sedang, itu memang boleh berpuasa namun dengan pemantauan yang lebih ketat. Sedangkan untuk risiko tinggi, baiknya tidak melakukan puasa karena risikonya untuk terjadi komplikasi seperti tadi misalnya hipoglikemia, hiperglikemia, dan lainnya sangat tinggi,” jelasnya.

dr. Helmi menjelaskan, penilaian risiko dilakukan sebelum memasuki Ramadan dengan melihat sejumlah faktor penting pada pasien.

Beberapa aspek yang dinilai antara lain kepatuhan pasien dalam minum obat, pemahaman pasien terhadap penyakit dan terapinya, serta kontrol glikemik yang dilihat dari pemeriksaan HbA1c, gula darah puasa, maupun gula darah sewaktu sebelum Ramadan.

Dokter juga menilai riwayat beberapa bulan terakhir, seperti pernah atau tidaknya pasien mengalami hipoglikemia (gula darah rendah) atau gula darah yang tidak terkontrol.

Jenis terapi yang dijalani pasien juga menjadi pertimbangan, apakah menggunakan insulin atau obat diabetes oral. Hal ini dinilai sangat menentukan keberhasilan pasien saat berpuasa.

Selain itu, dokter turut melihat apakah pasien memiliki komplikasi, baik mikro maupun makrovaskular, seperti trombosis, infeksi, serta komorbid lain seperti gagal ginjal atau gagal jantung. Faktor usia, terutama pada pasien lansia, juga menjadi perhatian.

Hal penting lainnya adalah kemampuan pasien melakukan pemantauan mandiri (self-monitoring) serta tingkat pemahaman terhadap penyakit yang dideritanya.

“Nah itu semua biasanya kita pakai suatu scoring atau penilaian yang dibuat dari International Diabetes Federation pada saat Diabetes Ramadan. Nah itu nanti kita lihat HbA1c terakhir, riwayat kontrol glikemik, komorbid, dan komplikasinya seperti itu. Nanti kita lihat dia masuk risiko mana, risiko rendah, risiko sedang maupun tinggi,” tutur dr Helmi.

“Nanti kita berikan rekomendasi seperti yang tadi saya bilang, kalau risiko tinggi mungkin tidak direkomendasikan untuk berpuasa, karena biar bagaimanapun tadi keselamatan pasien adalah nomor satu,” pungkasnya.