Terbukti Ilmiah! Kelor Efektif Lawan 98 Persen Mikroplastik di Air

Ilustrasi kelor (moringa oleifera) yang bisa mengatasi masalah mikroplastik pada air minum/Foto : Dok. Shutterstock Ilustrasi kelor (moringa oleifera) yang bisa mengatasi masalah mikroplastik pada air minum/Foto : Dok. Shutterstock

Jakarta, GPriority.co.id – Ancaman mikroplastik di air minum terus membayang-bayangi dunia medis hingga saat ini. Namun, sebuah penelitian terbaru menjawab kekhawatiran tersebut.

Dilansir dari laporan terbaru NY Post pada Jumat (24/4), tanaman alami bernama Moringa oleifera atau kelor mampu menghilangkan hingga 98% mikroplastik dari air minum. Temuan ini membuka peluang baru dalam teknologi pemurnian air yang lebih ramah lingkungan dan berbiaya rendah.

Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan di Institute of Science and Technology, São Paulo State University, Brasil, menemukan bahwa ekstrak biji kelor memiliki kinerja setara bahkan melampaui bahan kimia konvensional yang selama ini digunakan dalam pengolahan air.

“Ekstrak garam dari biji ini bekerja mirip dengan aluminium sulfat, yang digunakan di instalasi pengolahan air untuk menggumpalkan mikroplastik. Dalam air yang lebih basa, performanya bahkan lebih baik dibandingkan produk kimia,” jelas Gabrielle Batista, peneliti utama dalam studi tersebut.

Perlu diketahui, mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil (kurang dari 5 mm) yang kini ditemukan hampir di semua lingkungan, mulai dari laut, makanan, hingga tubuh manusia.

Kehadirannya menjadi perhatian global karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, termasuk masalah pencernaan dan penurunan kesuburan.

Dalam studi tersebut, ekstrak biji kelor bekerja sebagai koagulan alami. Senyawa dalam biji ini membantu menggumpalkan partikel mikroplastik sehingga lebih mudah disaring dari air. Metode ini dinilai efektif sekaligus lebih aman dibandingkan bahan kimia sintetis.

Selain efektif, penggunaan kelor juga menawarkan keuntungan dari sisi ekonomi dan lingkungan. Tanaman ini mudah ditemukan di wilayah tropis dan telah lama digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional serta pemurni air alami.

Penelitian menunjukkan bahwa teknologi berbasis kelor dapat mengurangi biaya operasional dan kebutuhan infrastruktur dalam pengolahan air.

Bahkan, dalam beberapa kondisi, efektivitasnya melampaui aluminium sulfat, bahan kimia yang umum digunakan di instalasi pengolahan air.

Meski hasilnya menjanjikan, para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal. Uji coba skala besar masih diperlukan untuk memastikan efektivitasnya dalam sistem pengolahan air kota yang kompleks.

Selain itu, penggunaan bahan alami seperti kelor juga dapat meningkatkan kandungan karbon organik terlarut dalam air, yang berpotensi mempengaruhi proses pengolahan lanjutan.

Polusi plastik kini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi lingkungan. Diperkirakan sekitar 8 hingga 11 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahun, yang kemudian terurai menjadi mikroplastik dan menyebar luas di ekosistem.

Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa manusia dapat mengonsumsi puluhan ribu partikel mikroplastik setiap tahunnya melalui makanan dan minuman.