Jakarta, GPriority.co.id – Peluncuran program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah membawa harapan baru dalam menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di berbagai wilayah Indonesia.
Program ini dinilai menjadi solusi strategis untuk memperluas akses pendidikan, khususnya bagi pelajar yang terkendala faktor geografis dan ekonomi.
Salah satu dukungan datang dari Kepala Tata Usaha Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sukma Sabdani, yang menyebut PJJ telah terbukti efektif membantu ratusan pelajar Indonesia di Sabah, Malaysia.
“Dari sekitar 1.700 lulusan tingkat SMP setiap tahun, program PJJ akan mampu menampung lebih dari separuh murid yang sebelumnya tidak terakomodasi dalam program pendidikan formal reguler. PJJ menjadi solusi efektif bagi mereka yang tinggal di wilayah terpencil, termasuk anak-anak Indonesia yang berada di kawasan perkebunan dengan jarak hingga ratusan kilometer dari pusat kota maupun SIKK,” ujar Sukma dikutip siaran pers Kemendikdasmen, Minggu (26/4).
Ia menambahkan, program PJJ juga disambut antusias oleh para murid karena memberikan fleksibilitas untuk tetap belajar sambil menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk membantu orang tua.
“Ke depan, SIKK berencana untuk terus mengembangkan cakupan program PJJ agar dapat menjangkau lebih banyak murid, termasuk mereka yang telah bekerja, tetapi belum menyelesaikan pendidikan. Semoga program ini dapat terus berlanjut dan mendapat dukungan berkelanjutan dari pemerintah,” terang Sukma.
Dukungan serupa juga disampaikan Kepala SMAN 1 Ternate, Sabaria Umahuk. Ia mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai persiapan sebagai sekolah induk pelaksana PJJ di Maluku Utara.
Dalam implementasinya, SMAN 1 Ternate akan berkolaborasi dengan sejumlah sekolah mitra, seperti SMAN 1 Halmahera Utara, SMAN 1 Pulau Morotai, dan SMAN 2 Halmahera Timur.
“Program ini menjadi peluang besar untuk menjangkau anak-anak yang selama ini belum mendapatkan akses pendidikan, khususnya di daerah kami, Maluku Utara. Melalui kolaborasi yang kuat dan dukungan pemerintah daerah, kami optimis dapat memberikan layanan pendidikan yang maksimal guna menekan ATS dan mewujudkan pendidikan yang bermutu,” tutur Sabaria.
Sementara itu, Kepala SMAN 2 Padalarang, Kicky Eceu Wardani, menilai pengalaman sekolahnya dalam mengelola program SMA Terbuka menjadi modal penting dalam implementasi PJJ.
“Program ini sangat membantu karena memfasilitasi murid yang tidak dapat hadir langsung di sekolah. Fokus PJJ saat ini juga diarahkan kepada anak-anak yang sempat berhenti sekolah agar dapat kembali melanjutkan pendidikan. Semoga implementasi PJJ ini berjalan baik dan membawa harapan baru untuk para ATS di wilayah Jawa Barat,” terang Kicky.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan pentingnya integrasi PJJ dengan pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam.
“Sekolah induk dan sekolah mitra terpilih memiliki peran penting bukan hanya sekadar menekan angka ATS, melainkan juga bagaimana membentuk karakter mereka dan mengembangkan kompetensi yang kuat. Semoga program ini menjadi langkah strategis dalam memperluas akses pendidikan berkualitas,” pungkas Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, di Kabupaten Tangerang, Kamis (23/4).
Sebagai bagian dari penguatan ekosistem pembelajaran digital, PJJ memanfaatkan platform Rumah Pendidikan yang memungkinkan guru dan murid mengakses materi pembelajaran secara fleksibel.
Melalui platform tersebut, guru dapat mengunggah materi, sementara murid dapat mengunduh dan mempelajarinya secara mandiri kapan pun dan di mana pun.
Program PJJ jenjang pendidikan menengah ini secara khusus ditujukan bagi anak tidak sekolah berusia 16 hingga 18 tahun.
