Jakarta, GPriority.co.id – Meski selama ini bergosip identik dengan perilaku negatif yang dapat merusak hubungan dan reputasi seseorang, namun penelitian terbaru ini mengubah stigma tersebut.
Dilansir dari laporan terbaru NY Post, kebiasaan bergosip justru menunjukkan bahwa aktivitas bertukar cerita mengenai orang lain memiliki sejumlah manfaat dari sisi psikologi dan evolusi manusia, selama dilakukan dalam konteks yang tepat.
Psikolog sosial asal Polandia, Dr. Marcin Moron, menemukan bahwa individu yang lebih sering terlibat dalam aktivitas bergosip memiliki peluang lebih besar untuk menjalin hubungan romantis serta memiliki lebih banyak anak.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa perilaku bergosip kemungkinan memberikan keuntungan kecil dari sisi reproduksi dalam proses evolusi manusia.
Namun Moron menjelaskan, bentuk gosip yang diteliti bukan sekadar percakapan ringan mengenai selebritas atau teman, melainkan gosip yang dapat memengaruhi reputasi seseorang dalam persaingan sosial.
Ia menyebut, ada dua strategi utama yang digunakan manusia dalam persaingan sosial, yaitu promosi diri dan menjatuhkan pesaing. Promosi diri dilakukan dengan menampilkan kualitas atau daya tarik pribadi, sedangkan menjatuhkan pesaing dilakukan melalui gosip atau penyebaran informasi yang dapat melemahkan citra lawan.
“Dengan merusak reputasi pesaing, seseorang dapat membuat rivalnya berhenti bersaing untuk mendapatkan pasangan romantis yang sama. Ketika persaingan berkurang, peluang si penyebar gosip untuk mendapatkan pasangan yang diinginkan menjadi lebih besar,” demikian penjelasan penelitian tersebut.
Selain berfungsi sebagai strategi evolusi, penelitian tersebut juga menemukan manfaat sosial dari bergosip. Berbagai informasi termasuk rahasia, dinilai dapat mempererat kedekatan antarseseorang dan meningkatkan rasa saling percaya.
Bahkan, membicarakan pengalaman yang mengganggu disebut mampu membantu seseorang melepaskan emosi negatif sehingga merasa lebih lega.
Melalui penelitian ini, Moron menyebut bahwa bergosip dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam jangka pendek. Namun, efek tersebut diibaratkan seperti mengonsumsi makanan cepat saji yang memberikan kepuasan sesaat, tetapi tidak selalu baik jika dilakukan secara berlebihan.
Menariknya lagi, perilaku bergosip dikaitkan dengan kreativitas. Karena melibatkan strategi sosial, kecerdikan, serta keberanian mengambil risiko, aktivitas tersebut dinilai dapat merangsang kemampuan berpikir kreatif seseorang.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa manfaat tersebut tidak berarti semua bentuk gosip dapat dibenarkan.
Penelitian sebelumnya dari University of California, Berkeley juga menunjukkan bahwa gosip dapat berdampak positif jika digunakan untuk memperingatkan orang lain terhadap perilaku tidak jujur atau menjaga norma sosial, bukan untuk menyebarkan fitnah atau informasi palsu.
Dengan kata lain, penelitian menunjukkan bahwa bergosip merupakan bagian dari mekanisme sosial manusia yang telah berkembang selama ribuan tahun. Namun, manfaatnya sangat bergantung pada tujuan, konteks, dan dampak yang ditimbulkan bagi orang lain.
