Washington, GPriority.co.id – Starbucks akan menutup sekitar 250 kedai kopi yang berkinerja buruk di Amerika Utara. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan yang dipimpin CEO Brian Niccol untuk meningkatkan kembali penjualan dan memperbaiki kinerja jaringan gerai perusahaan.
Starbucks mengungkapkan rencana itu dalam pengajuan regulasi pada Kamis, 24 September 2026. Penutupan sekitar 250 gerai tersebut setara dengan sekitar 1 persen dari total hampir 18.000 kedai Starbucks di Amerika Utara. Sebagian besar penutupan ditargetkan rampung pada akhir tahun fiskal 2026.
Perusahaan memperkirakan restrukturisasi itu akan menimbulkan biaya sekitar 300 juta dolar AS. Biaya tersebut mencakup pengakhiran sewa, pesangon karyawan, serta penghapusan dan penurunan nilai aset gerai.
Starbucks juga memangkas proyeksi pembukaan gerai baru bersih secara global pada tahun fiskal 2026. Perusahaan kini memperkirakan pembukaan sekitar 440 gerai yang dioperasikan dan dilisensikan, turun dari target sebelumnya sebanyak 600 hingga 650 gerai.
Bagian dari restrukturisasi
Penutupan terbaru itu dilakukan sekitar setahun setelah Starbucks menutup sejumlah gerai berkinerja buruk di Amerika Utara. Langkah sebelumnya termasuk penutupan tempat pemanggangan kopi ikonik perusahaan di Seattle sebagai bagian dari restrukturisasi yang diperkirakan menelan biaya sekitar 1 miliar dolar AS.
Niccol, yang menyelesaikan dua tahun masa jabatannya sebagai CEO pada September, berupaya menghidupkan kembali bisnis Starbucks melalui rencana bertajuk “Kembali ke Starbucks”. Mantan eksekutif Chipotle Mexican Grill itu memperpendek waktu tunggu pelanggan dan menyederhanakan menu di Amerika Serikat.
Perusahaan juga berinvestasi dalam operasional toko dan dapur, memangkas sejumlah posisi korporat, serta menutup beberapa kantor regional untuk mengendalikan biaya.
Penjualan mulai membaik
Hingga Juli 2026, Starbucks mencatat pertumbuhan penjualan sebanding selama empat kuartal berturut-turut. Niccol mengatakan lalu lintas pelanggan meningkat di seluruh kelompok pendapatan pada April lalu.
Namun, perusahaan masih menghadapi tekanan dari melemahnya belanja non-esensial, terutama di kalangan konsumen berpendapatan rendah di Amerika Serikat. Tingginya biaya bahan bakar dan makanan turut membebani rumah tangga.
“Ini adalah langkah yang masuk akal tetapi mahal dalam upaya pemulihan Starbucks,” kata Lale Akoner, ahli strategi pasar global di eToro seperti dikutip dari Reuters.
Menurut Akoner, investor dapat kehilangan kesabaran jika peningkatan penjualan dan margin Starbucks kembali terhenti.
Brian Jacobsen, kepala strategi ekonomi di Annex Wealth Management, menilai Niccol telah menunjukkan kemajuan. Meski demikian, ia mengatakan tantangan berikutnya adalah mengubah momentum tersebut menjadi margin keuntungan yang lebih kuat.
Foto : Wikipedia
