Jakarta, GPriority.co.id – PHK massal di tahun 2024 menyebabkan jumlah pemudik di tahun ini turun drastis hampir 50 juta orang dibandingkan tahun lalu.
Diketahui, hal tersebut disebabkan oleh gelombang PHK massal terhadap 80.000 pekerja pada 2024 lalu. Selain itu, banyak juga dari mereka yang kehilangan pekerjaan memilih untuk tidak pulang kampung karena keterbatasan finansial yang dimiliki.
Salah satunya Supriyono, yang terdampak PHK setelah perusahaannya bangkrut. Dirinya mengaku lebih memprioritaskan kebutuhan primer daripada biaya untuk mudik. Hal serupa juga dialami Hamidah, warga Lampung yang saat ini tinggal di Jakarta. Dirinya merasa sulit pulang ke kampung halaman tanpa membawa oleh-oleh untuk keluarganya di kampung.
Adapun penurunan jumlah pemudik ini menjadi perhatian para pakar di Indonesia. Hal ini dinilai dapat memperlebar ketimpangan ekonomi. Seperti kita ketahui, mudik tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga mendorong perputaran uang di daerah asal para perantau.
Saat ini, dengan berkurangnya jumlah pemudik, maka ekonomi di kampung halaman juga ikut terdampak, dan mengurangi pendapatan pedagang kecil serta usaha lokal yang biasanya mendapat keuntungan dari meningkatnya aktivitas saat Lebaran.
Perputaran Uang Lebaran 2025 Diprediksi Anjlok
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum (Waketum) Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, memprediksi perputaran uang lebaran 2025 akan anjlok.
Dirinya mengatakan jika perputaran uang lebaran 2025 diprediksi akan mengalami penurunan Rp 20 triliun atau 12,3% dari tahun sebelumnya.
Sarman menjelaskan, penyebabnya yaitu karena berkurangnya jumlah pemudik. Berdasarkan survei dari Kemenhub dan akademisi, jumlah pemudik pada 2025 diperkirakan mencapai 146,48 juta pemudik (52% dari total penduduk Indonesia).
Jika dibandingkan dengan tahun lalu, mencapai 193,6 juta pemudik, maka angka tersebut mengalami penurunan hingga 24%.
Foto : Dok. ANTARA
