Ditengah Gempuran Batik Impor China, Wamendag Ingin Pasar Ekspor Batik Diperluas

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri usai menghadiri pembukaan acara Gelar Batik Nusantara 2025 di Pasaraya Blok M, Jakarta pada Rabu (30/7). Foto: GPriority/Dimas A Putra Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri usai menghadiri pembukaan acara Gelar Batik Nusantara 2025 di Pasaraya Blok M, Jakarta pada Rabu (30/7). Foto: GPriority/Dimas A Putra

Jakarta, GPriority.co.id – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri merespon gempuran batik impor asal China yang telah masuk ke pasar dalam negeri.

Menurutnya, perluasan pasar batik dalam negeri maupun luar negeri diperlukan untuk mempersempit ruang batik impor asal China di Indonesia.

“Jadi tentunya kita harus berupaya semaksimal mungkin, agar kemudian batik asli itu bukan hanya bisa diminati oleh market yang ada di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri,” kata Roro di Jakarta, Rabu (30/7).

Roro menuturkan, Kemendag mendukung bagaimana batik bisa semakin global dengan memanfaatkan perwakilannya di 33 negara.

“Kalau di kementerian perdagangan kita ada beberapa perwakilan di 33 negara, dan ini yang bisa dioptimalkan untuk bagaimana kita bisa mengekspansi market batik secara keseluruhan,” ujarnya.

Sejalan dengan ekspansi ini, Roro mengaku telah bertemu Menteri Perdagangan Afrika di Uganda dan menyatakan minatnya dengan batik Indonesia. Potensi ini, kata Roro, bisa dimanfaatkan untuk memperluas UMKM batik bisa ekspor.

“Nah market di Afrika ini seharusnya harus kita garap,  bagaimana agar produk-produk batik kita itu bisa sampai ke wilayah itu. Memang this is an unconventional market, tapi harus kita maksimalkan juga potensinya,” tuturnya.

Disamping itu, Roro mengatakan dukungan pasar batik dalam negeri juga dibutuhkan. Ia mendorong agar batik Indonesia dapat digunakan untuk keseharian termasuk digunakan diseluruh instansi.

“Kalau kita di kementerian perdagangan, kita berupaya, misalnya hari Kamis kita pakai yang lokal, program Gaspol. Dan kita berharap bahwa ini juga bisa dilakukan (menggunakan produk lokal/batik, red) di semua tempat, semua institusi, semua kementerian gitu ya,” kata Roro.

“Tapi di samping itu, itu salah satu langkah kita bagaimana agar batik juga terlestarikan, bahwasannya dalam keseharian kita, kita masih bisa menggunakan batik,” harapnya.

Sebelumnya, pemerintah masih menemukan banyaknya batik impor dipasaran. Kemenperin menyebut, kebanyakan batik impor bukan dikatakan sebagai jenis batik karena dibentuk oleh mesin.

Adapun batik yang dibentuk melalui desain tangan, umumnya melalui tangan pembatik baru masuk ke dalam golongan batik.

“Batik yang kita anggap batik itu hanya cap dan tulis, atau modifikasi cap dan tulis. Jadi kalau mungkin batik-batik impor kebanyakan printing, itu bukan batik, jadi tidak bisa disamakan,” ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Alexandra Arri Cahyani dikutip CNBC Indonesia.

Meski begitu, untuk pasar ekspor batik pada triwulan I tahun 2025 mencatatkan nilai sebesar US$7,63 juta atau naik 76,2% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar US$4,33 juta.

Lebih lanjut, berdasarkan Direktori Sentra BPS tahun 2020, pelaku industri batik di Indonesia berjumlah sekitar 5.946 industri dan 200 sentra IKM yang tersebar di 11 provinsi.