Kardinal Matteo Zuppi Habiskan 7 Jam Bacakan Ribuan Anak Korban Konflik Gaza

Kardinal Matteo Zuppi dari Gereja Katolik Italia saat membacakan ribuan anak korban peperangan Israel-Palestina/Foto : Dok. Anabaptist World Kardinal Matteo Zuppi dari Gereja Katolik Italia saat membacakan ribuan anak korban peperangan Israel-Palestina/Foto : Dok. Anabaptist World

Italia, GPriority.co.id – Kardinal Matteo Zuppi, presiden Konferensi Waligereja Italia, memimpin doa malam khidmat pada Kamis (14/8) lalu, menjelang Hari Raya Maria Diangkat ke Surga.

Dalam ibadah tersebut, Kardinal Matteo Zuppi membacakan dengan lantang nama-nama setiap anak yang tewas di Gaza, Palestina.

Menurut National Catholic Reporter, sebuah surat kabar berbasis di AS yang meliput isu-isu terkait Gereja Katolik, pembacaan doa tersebut berlangsung selama 7 jam. Kardinal Matteo Zuppi membaca dokumen setebal 469 halaman yang berisi daftar 12.211 anak-anak Palestina yang telah kehilangan nyawa mereka hingga 25 Juli 2025, selama kampanye militer dan pendudukan Israel di Gaza.

Pembacaan doa ini dilakukan pada malam hari di Monte Sole Marzabotto, dekat Bologna, di dalam reruntuhan Gereja Casaglia. Latar tempat ini memiliki resonansi historis yang mendalam, dimana gereja tersebut dihancurkan oleh pasukan Nazi dalam pembantaian September-Oktober 1944, ketika hampir 800 warga sipil (yang diantaranya anak-anak), tewas.

“Ini tentang mengenang dan memperhatikan,” kata Kardinal Zuppi, menekankan makna simbolis dari mengadakan acara peringatan di tempat yang telah lama dikaitkan dengan penderitaan dan kenangan akan para korban tak berdosa.

Selain itu, aksi doa ini juga turut menyoroti ketimpangan korban perang serta seruan mendesak agar dunia segera mencari jalan damai dengan melalui gencatan senjata. Sejak perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023, lebih dari 12 ribu anak Palestina di Gaza kehilangan nyawa. Konflik ini menjadi tragedi kemanusiaan terbesar di Timur Tengah.

Hingga saat ini, situasi di Gaza kian memburuk akibat adanya blokade, kelaparan, serta hancurnya infrastruktur, sementar pengeboman terus dilakukan dan menelan korban sipil.

Pastor Gabriel Romanelli menggambarkan kondisi warga Gaza yang diliputi dengan ketakutan. Bahkan gereja disana pun juga terkena serangan. Para pemimpin gereja katolik lainnya seperti Kardinal Pierbattista Pizzaballa serta Paus Leo XIV juga menegaskan bahwa darah anak-anak tak bersalah tersebut menjadi pengingat jika perang tak akan memberi jawaban terhadap apa pun dan dialog menjadi jalan utamanya.