Jakarta, GPriority.co.id – Meski banjir pujian dari masyarakat Indonensia atas kinerjanya, namun sosok Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, belum lama ini mendapat kritik keras dari salah satu politikus PDIP, Ferdinand Hutahaean.
Sebagaimana dilansir dari laporan ANTARA pada Senin (6/10), Ferdinand menyoroti pernyataan Menkeu Purbaya yang menyebut jika pihak Pertamina malas membangun kilang baru. Ferdinand menilai ucapan Purbaya keliru. Pasalnya, pembangunan kilang bukan hanya berkaitan dengan dana, namun juga faktor geopolitik.
“Sebaiknya kurang-kurangilah merasa paling jago dari semua orang, merasa paling rajin dari semua pejabat, merasa paling mampu dari semua pejabat, dan merasa paling fatal menyepelekan persoalan bangsa yang ada,” tegas Ferdinand.
Selanjutnya, Ferdinand memberi contoh proyek kilang di Tuban yang telah digarap oleh pemerintah dan bekerja sama dengan Rosneft asal Rusia. Pembangunannya sendiri menelan biaya hingga triliunan rupiah guna pembebasan lahan. Sayangnya, pembangunan kilang tersebut harus terhenti karena adanya embargo AS terhadap rusia.
Ferdinand pun menilai jika Purbaya sebaiknya tak meremehkan persoalan bangsa dengan memberi komentar yang tak berbasis informasi utuh.
Di sisi lain, saat ini Pertamina melalui PT Kilang Pertamina Internasional melaporkan jika proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan masih terus berjalan. Progresnya bahkan disebut sudah mencapai 96,5 persen dan tengah memasuki tahap uji coba peralatan serta awal pengoperasian.
Nantinya, proyek tersebut ditargetkan dapat meningkatkan kapasitas pengolahan dari semula 260 ribu menjadi 360 ribu barrel per harinya. Selain itu juga dapat menghasilkan BBM setara standar Euro 5 dan menurunkan impor elpiji hingga 4,9 persen.
Di samping memperkuat ketahanan energi nasional, proyek tersebut juga diharapkan dapat berdampak pada pertumbuhan perekonomian lokal dengan menyerap hingga 24 ribu tenaga kerja pada puncak konstruksi.
Selain itu, saat ini pemerintah tengah menyiapkan rencana besar untuk membangun kilang dan tangki penyimpanan minyak pada 18 wilayah mulai dari Aceh hingga Papua, dengan lokasi pembangunan di daerah Lhokseumawe, Natuna, Cilegon, Surabaya, Makassar, Ambon, hingga Fakfak.
Adapun total investasi proyek tersebut mencapai Rp232 triliun yang meliputi Rp160 triliun untuk pembangunan kilang dengan serapan 44 ribu tenaga kerja, serta Rp72 triliun tangki minyak dengan serapan 6.960 tenaga.
