Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah studi baru mengidentifikasi usia saat kesuburan wanita mulai menurun drastis. Mengejutkannya, kesuburan mungkin dapat menurun lebih muda daripada yang anda kira selama ini.
Dilansir dari laporan NY Post, saat ini di Amerika Serikat semakin banyak wanita yang menunda untuk membangun keluarga. JIka pada tahun 1970 rata-rata ibu yang melahirkan anak pertama berusia 21,4 tahun, pada tahun 2023 angkanya melonjak menjadi 27,5 tahun. Bahkan banyak wanita di sana yang juga menunda kehamilan hingga usia 30-40 tahun, menurut data CDC.
Kebanyakan mereka juga memilih membekukan sel telur atau metode IVF (bayi tabung), yang mampu membantu wanita dalam mengatasi tantangan reproduksi.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Jilin, China, 15.000 embrio dalam metode IVF (bayi tabung) diteliti. Hasilnya, mereka menemukan bahwa pada wanita usia 20 hingga 32 tahun sekitar 1 dari 5 sel telur membawa kelainan kromosom. Namun setelah usia 32 tahun, angka tersebut mulai meningkat dengan cepat.
Sementara pada pertengahan usia 30-an, lebih dari setengah sel telur seorang wanita mengandung terlalu banyak atau terlalu sedikit kromosom, yang menjadi penyebab utama keguguran, infertilitas, serta kondisi down syndrome pada anak.
Setiap tahunnya, risiko kelainan kromosom tersebut pun terus mengalami peningkatan. Peneliti menyebutkan, sebagian disebabkan oleh protein berbentuk cincin yang disebut kohesin.
Kohesin bertindak seperti lem molekuler untuk menyatukan kromosom saat sel telur berkembang. Namun kohesin tidak bertahan selamanya. Para ilmuwan menemukan bahwa seiring bertambahnya usia wanita, kadar protein vital ini menurun. Sel telur dari wanita di atas 40 tahun memiliki kadar kohesin hingga sepertiga lebih rendah, dibandingkan sel telur dari wanita berusia 20-an.
Tanpa kohesin yang cukup, kromosom tidak dapat tetap berpasangan. Akibatnya, kromosom dapat terbelah terlalu dini, bergeser ke tempat yang salah, hingga menyebabkan beberapa sel telur memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit kromosom.
Selain itu, kohesin juga membantu memperbaiki DNA. Ketika kadarnya menurun, kerusakan DNA menumpuk, perbaikannya melambat, dan terjadinya kesalahan seperti hilangnya kromosom dan mutasi yang meningkat. Kesalahan-kesalahan tersebut juga dapat meningkatkan risiko kanker serta masalah perkembangan pada janin.
Saat ini, para ilmuwan masih mencari tahu mengapa kadar kohesin mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Tetapi mereka menemukan beberapa petunjuk.
Protein pelindung yang biasanya menjaga kohesin ternyata akan memudar seiring waktu dan stres oksidatif yang menumpuk di dalam tubuh dapat merusaknya. Di saat yang bersamaan, sinyal seluler tertentu dapat membantu menjaga kohesin tetap pada tempatnya juga melemah seiring bertambahnya usia sel telur.
